Dari Lereng 900 Mdpl, Kopi Perbawati Disiapkan Jadi Andalan Sukabumi

Share

Katanews.com, SUKABUMI — Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendorong pengembangan kopi asal Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, sebagai komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional. Upaya ini dilakukan seiring tingginya potensi produksi serta dukungan kondisi geografis wilayah yang dinilai ideal.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan mayoritas petani di Desa Perbawati membudidayakan kopi jenis arabika. Letak desa di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut (mdpl) dinilai sangat mendukung kualitas hasil produksi.

“Petani kopi di Perbawati cukup banyak dan didominasi arabika. Kondisi geografisnya sangat cocok untuk pengembangan kopi berkualitas,” kata Aep, Selasa (7/4/2026).

Menurut dia, kopi lokal tersebut telah memiliki identitas dagang dengan nama Kopi Perbawati yang mulai dikenal di kalangan penikmat kopi, meski saat ini masih berfokus pada pasar lokal.

Aep menyebut tingginya permintaan di dalam daerah menjadi salah satu alasan distribusi belum meluas. Namun, pihaknya menargetkan ekspansi pasar ke luar daerah sebagai langkah peningkatan nilai ekonomi petani.

“Ke depan kami dorong agar pemasaran tidak hanya lokal, tapi bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Ia menambahkan, selama ini rantai distribusi kopi masih didominasi pembelian langsung oleh pelaku usaha dari kebun petani. Biji kopi kemudian diolah secara mandiri sebelum dipasarkan ke berbagai kedai kopi di wilayah Sukabumi.

Untuk memperkuat sektor hulu hingga hilir, Dinas Pertanian terus menyalurkan berbagai bantuan kepada petani, mulai dari benih, alat pengolahan, hingga pembangunan gudang penyimpanan.

“Bantuan ini bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil panen petani,” kata Aep.

Sementara itu, Kaur Perencanaan Desa Perbawati, Asep Amir Hamzah, menyebut selain kopi, terdapat sejumlah komoditas unggulan lain yang menjadi penopang ekonomi desa, seperti padi, sayuran, dan pisang.

Menurutnya, potensi pertanian di wilayah tersebut cukup melimpah dan mudah dikembangkan. Saat ini, hasil produksi petani juga mulai dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai upaya memperkuat ekonomi lokal.

“Selain kopi, petani juga fokus pada padi, pisang, dan sayuran. Pemasaran sudah mulai dikelola melalui BUMDes,” ujar Amir.

Ia menambahkan, pemerintah desa tengah mengembangkan produk beras dengan merek lokal Beras Desa Perbawati, termasuk beras putih dan ketan. Program ini diarahkan untuk menghasilkan produk pangan sehat dengan meminimalkan penggunaan pestisida.

Penyuluhan kepada petani terus dilakukan guna mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

“Kami ingin ke depan beras Perbawati dikenal sebagai beras sehat. Prosesnya bertahap, termasuk edukasi pengurangan pestisida,” kata dia.

Pemerintah daerah berharap penguatan sektor pertanian berbasis komoditas unggulan ini dapat meningkatkan daya saing daerah sekaligus mendorong kesejahteraan petani di Kabupaten Sukabumi. (Han)

Terbaru