Katanews.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (20/5/2026) sore, seiring tekanan besar dari saham sektor basic materials atau barang baku setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.
IHSG tercatat turun 52,18 poin atau 0,82 persen ke level 6.318,50. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga terkoreksi 4,14 poin atau 0,65 persen ke posisi 630,68.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor menyusul keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026. Kenaikan tersebut berada di atas ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan level suku bunga hanya naik ke 5 persen.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG sepanjang perdagangan berlangsung fluktuatif sebelum akhirnya ditutup di zona merah.
Menurutnya, pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi pemerintah setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR.
Selain membahas arah fiskal nasional, pemerintah turut mengumumkan rencana kewajiban ekspor komoditas sumber daya alam melalui perusahaan BUMN yang ditunjuk sebagai eksportir tunggal. Kebijakan tersebut dinilai memicu perhatian investor, khususnya pada sektor berbasis komoditas dan barang baku.
Di sisi lain, Presiden juga meminta Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menurunkan suku bunga kredit untuk masyarakat kecil guna menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Sentimen kenaikan suku bunga acuan turut berdampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda tercatat menguat sekitar 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar Amerika Serikat.
Secara sektoral, tekanan terbesar terjadi pada sektor barang baku yang ambles 4,60 persen. Pelemahan juga terjadi pada sektor transportasi dan logistik sebesar 4,34 persen serta sektor energi sebesar 2,63 persen.
Meski mayoritas saham berada di zona merah, sejumlah emiten masih mencatatkan penguatan signifikan, di antaranya LCKM, SURE, APIC, INTD, dan MORA.
Sebaliknya, saham dengan pelemahan terdalam ditempati oleh RELI, TPIA, WBSA, ASPR, serta SMMT.
Aktivitas perdagangan di BEI tercatat cukup tinggi dengan frekuensi transaksi mencapai 2,47 juta kali. Volume perdagangan mencapai 41,12 miliar lembar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp22,35 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 208 saham menguat, 483 saham melemah, dan 126 saham stagnan.
Pelemahan pasar saham Indonesia juga sejalan dengan tren negatif bursa Asia. Indeks Nikkei tercatat turun 1,34 persen, Hang Seng melemah 0,57 persen, Shanghai Composite turun 0,18 persen, sedangkan Straits Times terkoreksi 0,52 persen. (Zen)