Katanews.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan hilirisasi kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menjadi strategi utama dalam memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch Arief Cahyono, mengatakan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis dalam mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.
“Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi CPO merupakan langkah konkret untuk mentransformasi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan pasar global,” ujar Arief dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Menurut dia, pengolahan CPO menjadi berbagai produk turunan, seperti pangan olahan, kosmetik, sabun, oleokimia, hingga bioenergi, akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
Arief menambahkan, penguasaan lebih dari 60 persen pasar CPO dunia memberikan daya tawar besar bagi Indonesia dalam menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit di pasar global.
Selain itu, hilirisasi sawit dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional, khususnya melalui pengembangan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan bahan bakar solar.
“Pemanfaatan biofuel sawit secara optimal berpotensi menggantikan impor solar secara signifikan. Dengan implementasi penuh B50, Indonesia berpeluang memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya dalam negeri,” katanya.
Arief juga menegaskan bahwa pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait dinamika geopolitik global, termasuk ilustrasi penutupan Selat Hormuz, bukan merupakan prediksi krisis, melainkan gambaran dampak gangguan pasokan terhadap harga energi dunia.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki keunggulan strategis karena dominasi produksi CPO global. Jika dikelola optimal melalui hilirisasi, posisi tersebut dapat menjadi kekuatan strategis sekaligus meningkatkan daya tawar Indonesia dalam percaturan ekonomi global.
Pemerintah mencatat implementasi biodiesel B50 membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO. Volume tersebut dapat dialihkan dari ekspor untuk diolah menjadi biofuel, sehingga berpotensi menekan impor solar, menghemat devisa, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Kinerja sektor sawit nasional juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) per 13 Maret 2026, produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton atau meningkat 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, total produksi CPO dan PKO tercatat sebesar 56,55 juta ton atau naik 7,18 persen. Dari sisi perdagangan, ekspor produk sawit mencapai 32,34 juta ton atau meningkat 9,51 persen dengan nilai 35,87 miliar dolar AS atau sekitar Rp590 triliun, naik 29,23 persen.
Peningkatan tersebut turut mendorong kesejahteraan petani, yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 125,45 pada Februari 2026, termasuk kenaikan pada subsektor perkebunan.
Hilirisasi sawit juga dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk secara signifikan, yakni antara 3 hingga lebih dari 30 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah. Saat ini, industri hilir sawit telah menghasilkan lebih dari 193 jenis produk turunan, mulai dari pangan, kosmetik, bahan kimia, hingga bioenergi.
Kementan menilai transformasi tersebut tidak hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga meningkatkan harga di tingkat petani, memperluas lapangan kerja, serta menciptakan efek ekonomi berantai yang luas. (Las)