Ketegangan AS–Iran Ganggu Pasokan Migas, Batu Bara Kembali Dilirik Dunia

Share

Katanews.com, JAKARTA – Ketegangan geopolitik global kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Konflik dan rivalitas politik antarnegara, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, berpotensi mengganggu distribusi minyak dan gas di pasar internasional.

Di tengah kondisi tersebut, batu bara kembali dipandang sebagai alternatif energi yang relatif stabil. Komoditas ini dinilai tidak terlalu terpengaruh konflik geopolitik dibandingkan minyak dan gas yang pasokannya lebih terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menyebut batu bara sering kembali menjadi pilihan ketika pasokan energi global mengalami gangguan akibat konflik internasional.

Menurutnya, distribusi cadangan batu bara yang lebih merata di berbagai negara membuat komoditas ini relatif aman dari tekanan geopolitik.

“Cadangan batu bara tersebar luas dan tidak terlalu terkonsentrasi di kawasan konflik. Jadi relatif aman dan tidak terlalu terpengaruh panasnya geopolitik. Dalam situasi krisis, batu bara sering berfungsi sebagai penyangga pasokan energi primer,” ujar Bisman dalam keterangan tertulis, Senin (16/3/2026).

Pandangan serupa disampaikan pengamat energi Iwa Garniwa. Ia menilai sejumlah negara besar kembali meningkatkan konsumsi batu bara ketika pasokan minyak dan gas terganggu atau harga energi melonjak di pasar global.

Menurutnya, negara-negara dengan kebutuhan energi besar seperti China dan India memilih memperkuat cadangan batu bara guna menjaga stabilitas pasokan listrik dan industri.

“Beberapa negara seperti China dan India meningkatkan impor batu bara untuk menjaga ketahanan energi mereka. China, misalnya, meningkatkan impor batu bara hingga sekitar 500 juta ton pada 2024 untuk mengamankan pasokan energi domestik,” jelas Iwa.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi Indonesia yang saat ini menempati posisi strategis sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia.

Berdasarkan data capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2025, dari total sekitar 1,3 miliar ton perdagangan batu bara global, Indonesia menyuplai sekitar 514 juta ton atau setara dengan 43 persen pangsa pasar dunia.

Meski banyak negara mulai mengurangi penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) demi menekan emisi karbon, Bisman menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang apabila eskalasi geopolitik berdampak pada ketahanan energi nasional.

“Batu bara masih bisa menjadi primadona walau banyak negara termasuk Indonesia menghentikan pembangunan PLTU baru. Kebijakan ini perlu dievaluasi jika eskalasi geopolitik meningkat demi menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.

Di sisi lain, pemanfaatan batu bara juga dinilai dapat diarahkan pada strategi diversifikasi energi. Pengembangan teknologi seperti Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS), gasifikasi batu bara, hingga hilirisasi menjadi bahan kimia dan bahan bakar dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan emisi karbon.

Data Kementerian ESDM mencatat realisasi produksi batu bara nasional mencapai sekitar 790 juta ton pada 2025. Namun pemerintah berencana menurunkan target produksi menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun ini sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Di sektor korporasi, kinerja sejumlah perusahaan tambang batu bara nasional juga menunjukkan tren positif. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota holding pertambangan MIND ID, mencatat total produksi dan pembelian batu bara sebesar 43,28 juta ton sepanjang 2024. Sementara volume angkutan batu bara mencapai 38,17 juta ton.

Hingga akhir September 2025, produksi batu bara PTBA tercatat mencapai 35,90 juta ton atau meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, perusahaan juga memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang. Di pasar domestik, PTBA telah mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT PLN serta sejumlah perusahaan semen dan pupuk.

Selain ekspansi pasar, perseroan juga memperkuat sektor logistik melalui pengembangan bisnis angkutan batu bara. Hingga kuartal III 2025, volume angkutan tercatat mencapai 30,02 juta ton atau naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 27,83 juta ton.

Saat ini PTBA juga tengah mengembangkan proyek prioritas angkutan batu bara jalur Tanjung Enim–Kramasan yang ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Proyek ini diproyeksikan menambah kapasitas angkut hingga 20 juta metrik ton.

Sementara dari sektor swasta, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk melaporkan volume penjualan batu bara hingga kuartal III 2025 mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4,2 kali. Adapun PT Indo Tambangraya Megah Tbk mencatat total produksi batu bara sebesar 21,2 juta ton sepanjang 2025.

Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, batu bara diperkirakan masih akan memainkan peran penting sebagai penyangga pasokan energi dunia dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar energi internasional. (Las)

Terbaru