Katanews.com JAKARTA** — Penurunan volume tangkapan tuna nasional sebesar 20 hingga 30 persen dalam beberapa tahun terakhir menjadi sinyal peringatan serius bagi keberlanjutan industri perikanan Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi eksploitasi berlebih serta dampak perubahan iklim yang semakin nyata di wilayah perairan strategis.
Laporan tersebut disampaikan oleh Indonesia Tuna Consortium melalui Lead-nya, Thilma Komaling, di Jakarta, Sabtu (2/5/2026). Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap stok tuna kini semakin tinggi, bahkan sejumlah populasi di Samudra Hindia dan Pasifik telah mencapai status fully exploited.
“Beberapa stok tuna di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik sudah berada pada status fully exploited, bahkan berpotensi melampaui batas aman untuk spesies tertentu,” ujar Thilma.
Penurunan ini berdampak langsung terhadap lebih dari 2,7 juta nelayan di Indonesia yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan, khususnya tuna sebagai komoditas unggulan ekspor.
Berdasarkan kajian yang dihimpun konsorsium, stok tuna di perairan Indonesia diproyeksikan dapat menyusut hingga minimal 36 persen pada tahun 2050. Penurunan ini dipicu oleh praktik overfishing yang terus berlangsung serta degradasi ekosistem laut yang kian mengkhawatirkan.
Selain itu, perubahan iklim turut memperparah kondisi. Kenaikan suhu laut sebesar 1 hingga 2 derajat Celsius telah menyebabkan pergeseran distribusi ikan tuna hingga ratusan kilometer dari wilayah tangkap tradisional. Akibatnya, nelayan—terutama skala kecil—harus melaut lebih jauh dengan biaya operasional yang meningkat.
Di sisi lain, sektor ekspor tuna Indonesia masih menunjukkan kinerja signifikan. Pemerintah mencatat nilai ekspor tuna dan cakalang mencapai 1,04 miliar dolar AS pada 2025, setara dengan 16,5 persen dari total ekspor perikanan nasional yang mencapai 6,27 miliar dolar AS.
Amerika Serikat menjadi pasar utama dengan nilai ekspor mencapai 1,99 miliar dolar AS, disusul Tiongkok sebesar 1,22 miliar dolar AS, serta kawasan ASEAN yang berkontribusi sekitar 1,00 miliar dolar AS.
Namun demikian, Indonesia Tuna Consortium menilai ketergantungan pada volume produksi harus segera diubah. Transformasi model bisnis dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri.
“Kami mendorong pergeseran dari model berbasis volume ke pemanfaatan nilai tambah melalui konsep 100 percent utilization,” kata Thilma.
Saat ini, sekitar 40 hingga 50 persen bagian tubuh tuna, seperti kulit dan tulang, belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, pemanfaatan menyeluruh dinilai dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya.
Kondisi ini menegaskan perlunya langkah strategis dan kolaboratif antara pemerintah, pelaku industri, serta nelayan guna menjaga keberlanjutan sumber daya tuna nasional di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (Rud)