Minuman Kekinian Bisa Sumbang 100 Persen Batas Gula Harian, Ini Imbauan Pakar UI

Share

Katanews.com, DEPOK — Minuman kekinian seperti artisan milk tea menjadi perhatian pakar Universitas Indonesia (UI) karena kandungan gula dan kafeinnya berpotensi berdampak terhadap kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI Dr. Widyatuti mengatakan kombinasi gula tinggi, krimer olahan, pemanis tambahan dan teh pekat dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme.

“Dampak negatif tersebut meliputi obesitas, resistensi insulin yang berujung pada diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan sistem kardiovaskular,” ujar Widyatuti di Depok, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, risiko tersebut perlu menjadi perhatian karena Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes yang tinggi. Data International Diabetes Federation (IDF) dalam Atlas Diabetes edisi ke-11 tahun 2024 mencatat sekitar 20,4 juta orang di Indonesia hidup dengan diabetes.

Satu Porsi Bisa Mendekati Batas Gula Harian

Widyatuti mengingatkan masyarakat agar memperhatikan jumlah gula dalam setiap minuman kekinian yang dikonsumsi.

Kementerian Kesehatan merekomendasikan konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Sementara itu, satu porsi artisan milk tea diperkirakan dapat menyumbang sekitar 70 hingga 100 persen dari batas konsumsi gula harian tersebut.

Selain gula, kandungan kafein dari teh pekat juga perlu diperhatikan. Konsumsi berlebihan dapat berkaitan dengan keluhan seperti gangguan tidur, jantung berdebar, kecemasan dan masalah pencernaan, terutama pada kelompok yang sensitif terhadap kafein.

“Popularitas artisan milk tea sering kali membuat masyarakat terbuai oleh cita rasa, aroma khas, dan estetika visualnya. Istilah ‘artisan’ kerap disalahartikan sebagai produk yang pasti alami atau jelas sehatnya,” katanya.

Pakar UI Beri Tips Konsumsi Minuman Kekinian

Widyatuti menyarankan masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari minuman kekinian, tetapi mengatur frekuensi dan komposisinya.

Pilihan tingkat kemanisan dapat diturunkan, misalnya dengan memilih less sugar atau no sugar. Krimer olahan juga dapat diganti dengan susu rendah lemak atau susu nabati.

Konsumen juga disarankan membatasi topping tinggi kalori seperti boba, cheese foam dan puding.

“Edukasi mengenai batas aman asupan gula dan kafein sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam gaya hidup yang merusak metabolisme tubuh,” ujar Widyatuti.

Ia menekankan, air putih tetap menjadi sumber utama kebutuhan cairan harian, sedangkan minuman kekinian sebaiknya ditempatkan sebagai konsumsi sesekali. (Dd)

Terbaru