Katanews.com, SUKABUMI — Panen perdana padi PM AAS di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mencatat hasil ubinan 10,72 ton per hektare. Capaian tersebut menjadi modal awal untuk meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi konsistensi hasil dan peluang penerapannya di lahan lain masih menjadi tantangan berikutnya.
Panen berlangsung di lahan percontohan atau demplot milik Kelompok Tani (Poktan) Mulya Tani I, Senin (12/10/2026). Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, bersama jajaran penyuluh pertanian, UPTD, BPP Palabuhanratu, dan Tim PVTPP selaku penanggung jawab swasembada pangan Kabupaten Sukabumi.
Aep mengatakan, hasil ubinan tersebut menjadi dorongan untuk mengembangkan budi daya padi yang lebih produktif. Namun, menurut dia, capaian dari panen perdana tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan program pertanian.
“Capaian ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian. Tantangannya adalah menjaga hasil tetap optimal, memperkuat pendampingan petani, dan memastikan peningkatan produksi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan mereka,” ujar Aep, Kamis (15/10/2026).
Konsistensi Hasil Panen Jadi Tantangan
Hasil ubinan 10,72 ton per hektare di Citepus membuka peluang pengembangan padi PM AAS di Kabupaten Sukabumi. Meski demikian, diperlukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana capaian tersebut dapat dipertahankan pada musim tanam berikutnya dan diterapkan di lahan dengan karakteristik berbeda.
Menurut Aep, keberhasilan budi daya padi dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi lahan, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman hingga kemampuan petani menerapkan praktik budi daya yang tepat.
Karena itu, hasil dari lahan percontohan perlu dikaji secara menyeluruh sebelum dijadikan dasar pengembangan di wilayah lain. Evaluasi tersebut penting agar peningkatan produktivitas tidak hanya tercatat dalam satu kali panen, tetapi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Demplot padi PM AAS di Citepus dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat peluang pengembangan di lokasi lain. Hasilnya perlu dikaji berdasarkan kondisi lahan dan pelaksanaan budi daya sebelum diterapkan lebih luas,” katanya.
Produktivitas Harus Berdampak pada Kesejahteraan Petani
Selain mengejar peningkatan hasil panen, tantangan pengembangan padi PM AAS juga terletak pada keberlanjutan usaha tani. Produktivitas yang tinggi perlu diikuti dengan pengelolaan budi daya yang tepat agar manfaatnya dapat dirasakan petani.
Pendampingan penyuluh pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam proses tersebut. Petani membutuhkan dukungan teknis untuk menerapkan metode budi daya sesuai kondisi lahan, mengevaluasi hasil produksi, serta menjaga kualitas tanaman pada musim tanam berikutnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menekankan pentingnya kolaborasi antara petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan dalam memperkuat produksi pangan daerah.
“Target kita bukan sekadar panen dengan hasil tinggi, melainkan membangun pertanian yang berkelanjutan dan memperkuat kontribusi Sukabumi terhadap swasembada pangan nasional,” ujar Aep.
Capaian ubinan 10,72 ton per hektare dari panen perdana padi PM AAS di Citepus kini menjadi catatan awal pengembangan pertanian di Kabupaten Sukabumi. Tahap selanjutnya adalah memastikan hasil evaluasi, pendampingan petani, dan penerapan teknik budi daya mampu mendukung peningkatan produktivitas secara konsisten.
Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya diukur dari angka hasil panen, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan produksi dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi petani. (Adv, Zen)