Katanews.com, SUKABUMI – Pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional dengan mendorong peningkatan produksi padi gogo pada 2026. Program ini menargetkan luas tanam hingga 320 ribu hektare secara nasional sebagai langkah strategis menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan sawah irigasi.
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi salah satu daerah yang berperan penting dalam program tersebut. Wilayah ini memiliki potensi pengembangan padi gogo sekitar 37 ribu hektare, yang dinilai strategis untuk mendukung peningkatan produksi beras nasional.
Sebagai langkah konkret, kegiatan poligonisasi lahan padi gogo dilakukan di Kelompok Tani Cijerah, Kecamatan Waluran. Selain itu, kegiatan serupa juga dilaksanakan di sejumlah kecamatan lain yang memiliki potensi besar, di antaranya Cisolok, Kabandungan, Cikidang, Cidadap, Jampangtengah, Simpenan, Jampangkulon, Warungkiara, Nyalindung, dan Ciracap.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pertanian, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP), Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sukabumi, serta Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi.
Poligonisasi dilakukan untuk memastikan setiap lahan padi gogo terpetakan secara akurat dan tercatat dalam sistem Survei Kerangka Sampel Area (KSA). Metode KSA merupakan pendekatan berbasis area yang digunakan untuk menghasilkan estimasi luas panen secara objektif melalui pengamatan lapangan langsung atau ground check pada segmen tertentu, dengan dukungan aplikasi berbasis Android yang mampu mengunci koordinat lokasi secara presisi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan bahwa poligonisasi menjadi bagian penting dalam strategi peningkatan produksi pertanian daerah.
“Poligonisasi ini menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh potensi lahan padi gogo di Sukabumi terdata dengan baik. Dengan data yang akurat, perencanaan produksi akan lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada peningkatan hasil panen,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, keterlibatan petugas lapangan, mulai dari UPTD hingga penyuluh pertanian, menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program tersebut.
“Kami memastikan seluruh proses berjalan optimal di lapangan. Ini bukan hanya program pusat, tetapi juga komitmen daerah dalam menjaga ketersediaan pangan, khususnya beras,” katanya.
Selama ini, sebagian lahan padi gogo belum sepenuhnya tercatat dalam sistem resmi. Melalui kegiatan poligonisasi, seluruh potensi lahan diharapkan dapat teridentifikasi secara menyeluruh dan meningkatkan kontribusi Sukabumi dalam perhitungan luas panen nasional.
Pemerintah menilai pengembangan padi gogo kini tidak lagi sekadar alternatif, melainkan solusi strategis dalam menghadapi dinamika sektor pertanian ke depan.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah serta dukungan teknologi pendataan modern, Sukabumi diproyeksikan memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penopang ketahanan pangan nasional. (Rud)