Katanews.com, SUKABUMI – Pantai Cimaja di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali menjadi perhatian komunitas selancar internasional melalui Cimaja Boardrider Open Pro Surf Competition 2026. Konsistensi gelombang dan kehadiran peselancar dari berbagai negara menjadi modal bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk mendorong wisata surfing Cimaja masuk lebih jauh ke pasar global.
Kompetisi tersebut dibuka Wakil Bupati Sukabumi Andreas pada Sabtu (15/8/2026). Ajang yang berlangsung selama tiga hari itu tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan potensi pariwisata pesisir Sukabumi kepada wisatawan mancanegara.
Andreas mengatakan karakter ombak Cimaja menjadi salah satu keunggulan yang tidak dimiliki semua daerah. Konsistensi kompetisi surfing yang digelar setiap tahun juga dinilai dapat memperkuat citra Cimaja sebagai salah satu destinasi selancar unggulan.
“Cimaja ini salah satu destinasi wisata yang belum tentu dimiliki daerah lain, salah satunya karena ombaknya. Surfing juga selalu diadakan setiap tahun,” ujar Andreas.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dikembangkan lebih jauh agar keberadaan kompetisi internasional memberikan dampak yang lebih luas bagi Kabupaten Sukabumi.
Pengembangan wisata surfing Cimaja tidak cukup hanya dengan menggelar kompetisi. Infrastruktur, penataan kawasan, promosi, akses wisata, serta keterlibatan pelaku usaha lokal perlu berjalan secara bersamaan.
Peselancar Mancanegara Jadi Promosi Gratis Cimaja
Kehadiran peserta dari berbagai negara menjadi salah satu kekuatan promosi dalam kompetisi tahun ini.
Peselancar internasional yang ambil bagian antara lain berasal dari Spanyol, Jerman, Meksiko, Austria, Australia, Inggris, Jepang, dan Taiwan. Peselancar Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) juga ikut berkompetisi.
Bagi pemerintah daerah, kedatangan peserta dari berbagai negara membuka peluang agar pengalaman mereka selama berada di Cimaja turut memperluas promosi destinasi secara organik.
Andreas mengatakan Kabupaten Sukabumi memiliki garis pantai sekitar 117 kilometer yang menyimpan banyak titik potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata.
“Ini tempat yang bagus dan mudah-mudahan bisa kita dorong menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sukabumi. Dikenalnya bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia,” katanya.
Namun, pengembangan kawasan wisata di Cimaja memiliki tantangan tersendiri. Sejumlah lahan di sekitar pantai merupakan milik pribadi sehingga pemerintah daerah tidak dapat secara langsung membangun seluruh fasilitas yang dibutuhkan.
Karena itu, kolaborasi dengan pemilik lahan, swasta, sponsor, komunitas, dan pelaku usaha menjadi salah satu skema yang dapat diperkuat.
Targetnya Bukan Sekadar Banyak Wisatawan
Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga mulai melihat keberhasilan sport tourism dari sisi dampak ekonomi terhadap masyarakat.
Wisatawan dan peselancar yang datang diharapkan tidak hanya mengikuti kompetisi, kemudian meninggalkan kawasan. Mereka perlu tinggal lebih lama, menggunakan akomodasi lokal, menikmati kuliner, menggunakan jasa masyarakat, hingga membeli produk UMKM di sekitar destinasi.
“Yang penting pengunjungnya senang dan kita layani dengan baik. Uangnya mengalir, masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya,” ujar Andreas.
Pola tersebut dapat membuat kompetisi surfing memiliki efek ekonomi berantai bagi masyarakat pesisir.
Dengan kata lain, event olahraga menjadi pintu masuk, sedangkan penginapan, restoran, transportasi, jasa pemandu, penyewaan perlengkapan, dan produk lokal menjadi sektor yang memperoleh manfaat dari meningkatnya kunjungan.
Kualitas Ombak Jadi Modal Utama
Ketua Panitia Cimaja Boardrider Open Pro Surf Competition 2026 Iman Noel Hakim mengatakan kompetisi tersebut telah menjadi agenda tahunan komunitas Cimaja Boardriders.
Agustus dipilih karena kondisi gelombang dan tingkat kunjungan peselancar dinilai mendukung pelaksanaan kompetisi.
Iman menyebut kualitas ombak Cimaja menjadi salah satu alasan utama kawasan tersebut mampu menggelar kompetisi bertaraf internasional.
“Ombak Cimaja kualitasnya internasional karena konsisten. Ombaknya beraturan dan tetap tersedia, termasuk ketika musim hujan,” jelasnya.
Konsistensi tersebut menjadi modal penting bagi Cimaja untuk tidak hanya dikenal sebagai tempat kompetisi sesaat, tetapi berkembang menjadi destinasi surfing yang dikunjungi sepanjang tahun.
Cimaja Boardrider Open Pro 2026 sendiri mempertemukan peselancar nasional dan internasional untuk memperebutkan trofi serta hadiah uang hasil kolaborasi sponsor dan pemerintah.
Bagi Kabupaten Sukabumi, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengubah kekuatan alam berupa ombak menjadi kekuatan ekonomi.
Jika kompetisi internasional dapat diikuti dengan peningkatan fasilitas, promosi global, pengelolaan kawasan yang berkelanjutan, dan keterlibatan masyarakat lokal, Pantai Cimaja berpeluang semakin kuat sebagai ikon wisata surfing Sukabumi sekaligus salah satu destinasi sport tourism unggulan Jawa Barat. (Rud)