Katanews.com, JAKARTA — Pemerintah mempercepat langkah menuju kemandirian teknologi kebencanaan dengan mendorong industrialisasi di dalam negeri, sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan nasional terhadap risiko bencana.
Upaya tersebut digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dalam Seminar Nasional Implementasi Kemandirian Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan yang digelar di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, mengatakan paradigma penanggulangan bencana perlu diubah dari pendekatan reaktif menjadi preventif berbasis risiko. Menurutnya, penguatan sistem nasional menjadi fondasi utama dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin kompleks.
Ia menyoroti masih adanya kendala dalam integrasi data dan koordinasi lintas sektor yang berdampak pada efektivitas penanganan bencana di lapangan.
“Penguatan sistem peringatan dini dan peningkatan kapasitas masyarakat harus menjadi prioritas agar respons terhadap bencana bisa lebih cepat dan tepat,” kata Raditya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian “Road to ADEXCO 2026” yang akan digelar pada September mendatang. Forum tersebut dirancang sebagai penggerak utama industrialisasi kebencanaan nasional sesuai arah Rencana Induk Penanggulangan Bencana 2020–2044.
Wakil Menteri PPN/Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menegaskan bahwa aspek kebencanaan harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan nasional jangka panjang.
“Ketahanan terhadap bencana menjadi elemen penting dalam pembangunan berkelanjutan, tidak bisa dipisahkan dari target pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dari perspektif industri, Direktur Operasional ADEXCO, Andrian W. Cader, menilai bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi kebencanaan, namun belum optimal dalam implementasi di sektor produksi.
Ia menyebut kesenjangan antara hasil riset akademik dan kebutuhan industri menjadi hambatan utama dalam pengembangan ekosistem teknologi kebencanaan nasional.
“Banyak inovasi yang berhenti di tahap riset dan tidak masuk ke industri. Padahal, kita punya peluang besar untuk menjadi produsen bahkan eksportir teknologi kebencanaan,” kata Andrian.
Menurutnya, diperlukan kebijakan yang selaras, percepatan hilirisasi, serta dukungan pembiayaan seperti insentif pajak dan peran pemerintah sebagai pembeli utama guna memperkuat ekosistem industri.
Pemerintah optimistis, dengan penguatan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi dampak bencana secara signifikan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui pengembangan dan ekspor teknologi kebencanaan. (Rud)