Katanews.com, JAKARTA – Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 71 orang meninggal dunia akibat gempa yang terjadi pada periode 15–19 Agustus 2026.
Penambahan satu korban tercatat di Kabupaten Nagekeo. BNPB saat ini memprioritaskan penanganan puluhan ribu warga yang masih berada di lokasi pengungsian maupun titik-titik terdampak bencana.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan belasungkawa sekaligus memastikan pemerintah terus menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.
“Jumlah korban bertambah satu orang menjadi 71 yaitu di Kabupaten Nagekeo. Kami dari pemerintah mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya keluarga kita, juga memastikan bantuan terus terdistribusi bagi masyarakat yang saat ini ada di tempat-tempat pengungsian maupun daerah terdampak,” kata Berton dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).
59.647 Warga Masih Mengungsi
Di tengah proses penanganan darurat, BNPB mencatat jumlah pengungsi di seluruh wilayah NTT mencapai 59.647 orang. Jumlah terbesar berada di wilayah Manggarai.
Berton mengatakan penanganan pengungsi menjadi fokus utama pemerintah karena sebagian warga memilih belum kembali ke rumah. Kondisi tersebut dipengaruhi kerusakan bangunan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan gempa susulan.
“Penanganan pengungsi saat ini menjadi fokus utama kami karena sebagian masyarakat memilih tidak kembali ke rumah karena rusak dan khawatir akan adanya gempa susulan,” ujarnya.
Pemerintah memastikan kebutuhan dasar para penyintas terus dipenuhi, mulai dari makanan, air bersih, tenda, matras, selimut, hingga kebutuhan sanitasi dan kebersihan.
Perhatian juga diberikan kepada kelompok rentan yang berada di lokasi pengungsian. BNPB menyebut penanganan tidak dilakukan hanya pada satu lokasi terpusat karena para korban tersebar di berbagai titik.
Bantuan Gempa NTT Tembus 398 Ton
Selain penanganan pengungsi, pemerintah terus memperkuat distribusi logistik ke wilayah terdampak. Hingga 18 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB, bantuan melalui jalur udara mencapai 165 ton.
Secara keseluruhan, bantuan yang telah dikirim sejak 15 hingga 18 Agustus 2026 mencapai 398 ton. Jalur darat masih menjadi moda utama distribusi bantuan ke berbagai wilayah terdampak.
BNPB juga mengoptimalkan transportasi laut untuk menjangkau daerah yang membutuhkan bantuan dalam jumlah besar.
“Kami juga mengalami kendala yakni karakter geografis di Flores yang saat ini sulit dijangkau. Oleh karena itu bantuan disalurkan secara bertahap dan menyesuaikan kondisi akses dari kecamatan sampai ke titik pengungsian,” jelas Berton.
Menurutnya, kondisi geografis Flores dan sejumlah ruas jalan yang labil menjadi tantangan dalam mempercepat pengiriman bantuan hingga ke desa dan titik pengungsian.
Sebaran Pengungsi Jadi Tantangan Penanganan
BNPB juga menghadapi persoalan sebaran pengungsi yang tidak seluruhnya berada di lokasi penampungan terpusat. Sebagian warga mengungsi secara mandiri sehingga petugas membutuhkan waktu untuk melakukan pendataan dan memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.
Kondisi akses menuju sejumlah desa yang sulit dijangkau turut memengaruhi kecepatan distribusi bantuan.
“Karena kami memang butuh waktu untuk mendata, juga akses ke desa-desa tidak mudah karena kondisi jalan yang labil,” kata Berton.
BNPB mengimbau masyarakat terdampak gempa di NTT tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Pemerintah memastikan upaya pemenuhan kebutuhan dasar terus dilakukan selama masa tanggap darurat.
Dengan jumlah korban meninggal yang mencapai 71 orang dan puluhan ribu warga masih mengungsi, tantangan utama penanganan gempa NTT kini tidak hanya menyangkut evakuasi, tetapi juga memastikan distribusi bantuan menjangkau seluruh korban secara merata dan tepat waktu. (Ani)