Sukabumi Genjot Modernisasi Pertanian, Sekolah Lapang Padi PM-AAS Diperluas ke 47 Kecamatan

Share

Katanews.com, SUKABUMI – Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai mendorong transformasi sektor pertanian melalui penerapan teknologi budidaya padi modern Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS). Program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas lahan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong kesejahteraan petani.

Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menyiapkan perluasan Sekolah Lapang Penerapan Tanam Padi PM-AAS ke 47 kecamatan. Langkah tersebut menyusul hasil uji penerapan metode pertanian modern di sejumlah wilayah yang dilaporkan mampu menghasilkan produktivitas hingga 11,2 ton per hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan Sekolah Lapang PM-AAS bukan sekadar kegiatan sosialisasi teknologi pertanian, melainkan pendekatan pembelajaran langsung bagi petani untuk meningkatkan kemampuan budidaya dan hasil produksi.

Menurut Aep, petani akan diajak memahami sekaligus mempraktikkan pola tanam yang berbeda dari metode konvensional. Melalui pendampingan tersebut, petani diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lahan dan menjaga produktivitas agar tetap tinggi.

“Launching ini memberikan semangat untuk semuanya. Pola ini dilakukan supaya bisa survive dengan hasil produksi di atas 10 ton per hektare,” ujar Aep saat peluncuran Sekolah Lapang Penerapan Tanam Padi PM-AAS di Kampung Cijambe Girang, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Jumat (30/10/26).

Aep menilai, keberhasilan penerapan teknologi pertanian tidak cukup hanya diukur dari tingginya hasil panen pada satu musim tanam. Transfer pengetahuan, perubahan pola budidaya, serta konsistensi pendampingan menjadi faktor penting agar peningkatan produktivitas dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Karena itu, perluasan sekolah lapang ke 47 kecamatan menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas petani sekaligus mempercepat adopsi teknologi pertanian di Kabupaten Sukabumi.

Produktivitas Tinggi Harus Diikuti Kesejahteraan Petani

Program modernisasi pertanian tersebut mendapat dukungan Wakil Bupati Sukabumi, Andreas. Ia menegaskan, peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut Andreas, sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah, terutama karena berkaitan langsung dengan visi Kabupaten Sukabumi untuk mengembangkan agroindustri.

Ia menginginkan profesi petani semakin menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, melalui peningkatan pendapatan dan penerapan teknologi yang membuat kegiatan pertanian lebih produktif.

“Petani harus dibuat senang dan sejahtera. Sehingga banyak yang mau menjadi petani,” tegas Andreas.

Ia menilai penerapan PM-AAS membuka peluang peningkatan pendapatan petani apabila target produktivitas dapat dicapai dan didukung pengelolaan usaha tani yang baik.

Namun, Andreas mengingatkan peningkatan produksi tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada petani. Pemerintah harus hadir memastikan kebutuhan dasar pertanian, mulai dari pupuk, benih hingga pendampingan teknis, tersedia dan dapat diakses.

“Ketika ada kesulitan di para petani, harus segera diselesaikan. Kami mendorong dinas terkait untuk terus membantu, baik dari sisi pupuk, benih maupun kebutuhan lainnya,” katanya.

Andreas juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia atas dukungan terhadap penerapan inovasi teknologi pertanian di Kabupaten Sukabumi.

Hasil Uji Coba Tembus 11,2 Ton per Hektare

Potensi peningkatan produksi melalui PM-AAS sebelumnya telah terlihat di Kecamatan Palabuhanratu dan Waluran. Ketua Kelompok Substansi Pendaftaran dan Pelepasan Varietas Tanaman pada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP), Nani Suwarni, menyebut hasil panen di kedua wilayah tersebut mencapai 11,2 ton per hektare.

Capaian itu melampaui target produktivitas yang dipatok sebesar 10 ton per hektare.

“Target produktivitas penerapan tanam padi PM-AAS ini 10 ton per hektare, namun hasil panen di Kecamatan Palabuhanratu dan Waluran tembus 11,2 ton per hektare. Makanya, metode ini akan diterapkan di Sukabumi,” ungkap Nani.

Menurutnya, pengembangan Sekolah Lapang PM-AAS akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan petani di seluruh kecamatan. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk mendukung pencapaian swasembada pangan nasional.

Modernisasi Pertanian Butuh Pendampingan dan Kepastian Dukungan

Perluasan PM-AAS ke 47 kecamatan sekaligus menghadirkan tantangan bagi pemerintah daerah. Peningkatan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan perubahan metode tanam, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana produksi, ketersediaan air, pendampingan penyuluh, serta kepastian akses petani terhadap pupuk dan benih berkualitas.

Selain itu, peningkatan hasil panen harus diikuti penguatan tata kelola pascapanen, akses pasar, dan efisiensi biaya produksi agar tambahan produktivitas benar-benar memberikan dampak terhadap pendapatan petani.

Bagi Kabupaten Sukabumi, agenda tersebut menjadi penting karena modernisasi pertanian tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi beras, tetapi juga memperkuat fondasi agroindustri daerah.

Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi pun dihadapkan pada tugas memastikan sekolah lapang tidak berhenti sebagai program pelatihan, melainkan mampu menghasilkan perubahan nyata dalam praktik budidaya petani.

Dengan perluasan PM-AAS, pemerintah daerah menargetkan produktivitas padi semakin meningkat, ketahanan pangan semakin kuat, dan sektor pertanian mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Keberhasilan program ini pada akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana teknologi dapat diterapkan secara konsisten, biaya produksi tetap terkendali, dan peningkatan hasil panen benar-benar berujung pada kesejahteraan petani. (Adv, Las)

Terbaru