Rupiah Kembali Melemah, Ketegangan AS-Iran dan Inflasi Amerika Jadi Perhatian Pasar

Share

Katanews.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan eksternal setelah pasar mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran serta dampaknya terhadap harga minyak global. Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.877 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.861 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai perkembangan hubungan AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketidakpastian geopolitik berpotensi memengaruhi harga minyak dan kemudian berdampak terhadap sentimen pasar keuangan global.

“Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran akan mempengaruhi harga minyak,” ujar Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Perhatian pasar tertuju pada kondisi di kawasan Timur Tengah, terutama setelah Iran mengajukan sejumlah syarat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz melalui mediator. Salah satu syarat yang diajukan berkaitan dengan penghentian agresi di kawasan, termasuk Lebanon dan Palestina, serta pengembalian aset Iran yang dibekukan.

Hingga kini, AS dan Iran belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konfrontasi. Situasi tersebut membuat penutupan Selat Hormuz terus menjadi perhatian karena jalur tersebut memiliki peran penting terhadap rantai pasokan energi global.

Ketidakpastian di sektor energi kemudian menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan investor dalam menentukan arah perdagangan mata uang. Perubahan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pada malam hari.

Data inflasi AS menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi berdampak terhadap pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, sentimen domestik justru dinilai mulai memberikan ruang positif bagi rupiah. Ketidakpastian di dalam negeri sedikit berkurang setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).

Rully menilai keputusan tersebut mendapat respons cukup baik dari pasar karena Destry dinilai memiliki komitmen terhadap agenda stabilitas nilai tukar.

“Respons pasar cukup baik dan sosok yang diterima pasar dengan komitmen yang jelas pada program stabilitas rupiah yang berkelanjutan,” kata Rully.

Perhatian terhadap stabilitas rupiah menjadi semakin penting di tengah tekanan eksternal yang berasal dari dinamika geopolitik, harga komoditas energi, dan arah kebijakan moneter global.

Sejalan dengan pergerakan pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu juga tercatat melemah.

JISDOR berada di level Rp17.876 per dolar AS, turun dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.824 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi kombinasi sentimen global dan domestik. Dalam jangka pendek, arah negosiasi AS-Iran, perkembangan harga minyak, serta data inflasi AS menjadi sejumlah faktor yang akan dicermati pelaku pasar untuk menentukan arah nilai tukar rupiah berikutnya. (Rud)

Terbaru