Realisasi Padi Gogo Sukabumi Capai 23.351 Hektare pada 2025, Target 2026 Jadi Tantangan

Share

Katanews.com, SUKABUMI – Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, membidik penanaman padi gogo seluas 17.558 hektare hingga akhir 2026. Target tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas basis produksi pangan melalui optimalisasi lahan kering di tengah kebutuhan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Namun, pencapaian target tersebut tidak cukup hanya mengandalkan penambahan luas tanam. Konsistensi pendampingan petani, ketersediaan sarana produksi, serta kemampuan menjaga produktivitas lahan menjadi faktor penting agar pengembangan padi gogo tidak berhenti pada capaian angka.

Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menjadikan pengembangan padi gogo sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan produksi padi terhadap lahan persawahan. Salah satu wilayah yang disiapkan menjadi kawasan pengembangan adalah Desa Gunung Karamat, Kecamatan Cisolok, dengan sasaran tanam mencapai 400 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan potensi lahan kering di wilayahnya masih terbuka untuk dikembangkan menjadi sumber produksi pangan.

“Potensi lahan kering di Kabupaten Sukabumi perlu dioptimalkan. Padi gogo menjadi salah satu alternatif untuk memperluas areal tanam, meningkatkan produksi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” ujar Aep, Jumat (6/11/2026).

Realisasi 2025 Jadi Modal, Target 2026 Perlu Dikawal

Pengembangan padi gogo di Kabupaten Sukabumi bukan program tanpa rekam jejak. Pada 2025, realisasi luas tanam komoditas tersebut tercatat mencapai 23.351 hektare.

Capaian itu menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk terus mengembangkan pertanian berbasis lahan kering. Meski demikian, keberhasilan program selanjutnya perlu diukur tidak hanya dari luas areal yang ditanami, tetapi juga hasil panen dan peningkatan produktivitas petani.

Target 17.558 hektare pada 2026 membutuhkan pengawalan agar potensi lahan benar-benar menghasilkan produksi pangan. Terlebih, karakteristik lahan kering memiliki tantangan tersendiri, mulai dari ketersediaan air, kondisi tanah, hingga ketepatan waktu tanam.

Aep menegaskan, keberlanjutan pengembangan padi gogo membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama pemerintah, penyuluh pertanian dan kelompok tani.

“Keberlanjutan pengembangan padi gogo membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Pendampingan petani juga diperlukan agar pemanfaatan lahan kering dapat berjalan optimal dan produktivitas tetap terjaga,” tegasnya.

Cisolok Disiapkan Jadi Salah Satu Sentra Pengembangan

Sebagai langkah konkret, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi menggelar Gerakan Tanam Padi Gogo bersama Kelompok Tani Sabilulungan di Desa Gunung Karamat, Kecamatan Cisolok, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan lahan kering sekaligus meningkatkan partisipasi kelompok tani dalam memperluas areal produksi padi.

Bagi Kabupaten Sukabumi, pengembangan padi gogo memiliki nilai strategis karena membuka peluang produksi pangan di luar kawasan persawahan. Strategi ini juga diharapkan mampu memberikan alternatif usaha tani dan meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan.

Aep optimistis optimalisasi lahan kering dapat menjadi salah satu penopang swasembada pangan daerah. Namun, pencapaian tujuan tersebut membutuhkan program yang berkelanjutan, bukan sekadar gerakan tanam sesaat.

“Dengan potensi lahan yang tersedia dan dukungan kolaborasi lintas sektor, optimalisasi lahan kering diharapkan menjadi salah satu penopang swasembada pangan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi,” ucapnya.

Ke depan, tantangan pemerintah daerah bukan hanya memastikan target luas tanam tercapai, melainkan membuktikan bahwa lahan kering mampu memberikan kontribusi nyata terhadap produksi beras, kesejahteraan petani, dan ketahanan pangan Kabupaten Sukabumi. (Adv, Zen)

Terbaru