Hari Nelayan hingga Desa Hanjeli Bersinar, Sukabumi Tancap Gas Pariwisata Berbasis Event

Share

Katanews.com, Sukabumi – Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menegaskan posisinya sebagai salah satu motor penggerak pariwisata Jawa Barat setelah memborong tiga penghargaan dalam ajang Launching Calendar of Events (COE) Jawa Barat 2026 yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat di Bandung, Selasa (27/1/2026) lalu.

Capaian ini bukan sekadar seremoni, melainkan indikator kuat keberhasilan strategi pariwisata berbasis event dan promosi digital yang dikembangkan secara konsisten sepanjang 2025.

Event Lokal, Dampak Nasional

Kabupaten Sukabumi meraih predikat Penyelenggara Event Terbaik melalui perhelatan Hari Nelayan Palabuhanratu, serta penghargaan Desa Wisata Terbaik yang diraih Desa Wisata Hanjeli, Kecamatan Waluran. Tak hanya itu, kinerja promosi digital Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi juga menempati peringkat ketiga se-Jawa Barat dalam Pengelolaan Media Sosial TikTok, berdasarkan metode penilaian FAUR (Followers, Activity, Usage, Responsiveness).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bukti konkret efektivitas pendekatan event-driven tourism yang dijalankan pemerintah daerah.

“Pariwisata itu hidup karena event. Event harus dikelola dengan baik dan ditampilkan secara maksimal, karena itulah yang menarik orang untuk datang ke objek wisata,” ujar Ali, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, event bukan sekadar agenda tahunan, melainkan instrumen strategis untuk menggerakkan kunjungan wisata, membangun branding daerah, sekaligus memperluas dampak ekonomi masyarakat.

Kolaborasi Jadi Fondasi Penguatan Pariwisata

Ali menekankan bahwa keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Di tengah fokus pemerintah daerah pada pembangunan infrastruktur, pemulihan pascabencana, serta dukungan terhadap agenda pendidikan dan program strategis provinsi maupun nasional, pendekatan kolaboratif menjadi kunci.

“Penyelenggaraan event tidak harus sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah. Sinergi dengan pelaku pariwisata, perbankan, vendor, komunitas kreatif, hingga event organizer sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Model kolaborasi ini menjadi bagian dari transformasi pengelolaan pariwisata Kabupaten Sukabumi — dari pola konvensional berbasis anggaran daerah menuju sistem berbasis kemitraan dan partisipasi multipihak.

Kurasi Event: Dari Lokal ke Agenda Provinsi

Sepanjang 2025, Pemkab Sukabumi menyusun Calendar of Event Kabupaten Sukabumi yang dikurasi berdasarkan skala, kualitas, dan dampak ekonomi. Event diklasifikasikan mulai dari tingkat desa dan kecamatan, kabupaten, hingga yang diusulkan ke tingkat provinsi dan nasional.

Beberapa event unggulan yang berhasil menembus agenda lebih luas di antaranya:

*Hari Nelayan Palabuhanratu$
*Seren Taun Gelar Alam*
Lomba surfing Cimaja

Strategi kurasi ini dinilai efektif dalam meningkatkan daya saing event lokal sehingga memiliki nilai jual lebih luas di pasar wisata regional dan nasional.

Dampak Ekonomi: Perputaran Uang hingga UMKM Tumbuh

Ali menyebut, keberadaan event pariwisata memiliki dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat. Peningkatan kunjungan wisata mendorong okupansi hotel, pergerakan sektor kuliner, transportasi, hingga pertumbuhan UMKM lokal.

“Dengan meningkatnya kunjungan, terjadi perputaran uang di masyarakat. Ini membuka lapangan usaha dan meningkatkan pendapatan warga,” ujarnya.

Pendekatan ini selaras dengan visi pembangunan pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya menitikberatkan pada jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat lokal.

Digital Tourism: TikTok Sukabumi Tembus Tiga Besar Jabar

Selain kekuatan event, Kabupaten Sukabumi juga menunjukkan performa impresif dalam promosi digital. Berdasarkan penilaian FAUR, Sukabumi menempati peringkat ketiga se-Jawa Barat dalam pengelolaan TikTok.

Platform utama yang menjadi fokus promosi adalah Instagram dan TikTok, sesuai arahan provinsi, tanpa mengabaikan Facebook dan YouTube.

“Penilaian FAUR mencakup jumlah pengikut, konsistensi aktivitas konten, penggunaan fitur platform, hingga respons terhadap interaksi warganet,” terang Ali.

Bahkan dalam beberapa indikator, Sukabumi sempat menempati peringkat pertama sebelum secara akumulasi berada di posisi tiga besar.

Capaian ini memperkuat positioning Kabupaten Sukabumi sebagai daerah yang adaptif terhadap tren promosi digital dan mampu memaksimalkan potensi media sosial sebagai etalase pariwisata.

Momentum Penguatan Branding Nasional

Tiga penghargaan dalam COE Jawa Barat 2026 menjadi momentum strategis bagi Kabupaten Sukabumi untuk memperkuat branding sebagai destinasi berbasis event dan desa wisata unggulan.

Dengan kekuatan alam Palabuhanratu, kekayaan budaya seperti Seren Taun, serta geliat desa wisata seperti Hanjeli, Sukabumi menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi antara event, budaya, dan digital marketing mampu membawa dampak nyata bagi pembangunan daerah.

Ke depan, model ini diharapkan tidak hanya mempertahankan prestasi di tingkat provinsi, tetapi juga mendorong Sukabumi tampil sebagai destinasi event nasional yang kompetitif, berkelanjutan, dan inklusif bagi masyarakatnya. (Adv, Rud)

Terbaru