APBN 2026 Awal Tahun Positif, Penerimaan Pajak Capai Rp245,1 Triliun

Share

Katanews.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Keuangan mencatat kinerja penerimaan pajak yang kuat pada awal 2026. Hingga akhir Februari 2026, penerimaan pajak bersih (netto) mencapai Rp245,1 triliun, atau tumbuh 30,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dinukil dari ANTARA, realisasi tersebut setara dengan 10,4 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Data ini disampaikan dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp44,9 triliun atau sekitar 13,4 persen dari target APBN. Namun, sektor ini masih mengalami kontraksi 14,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menjelaskan bahwa pertumbuhan penerimaan pajak pada awal tahun terutama didorong oleh peningkatan kinerja Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang mencerminkan meningkatnya aktivitas transaksi ekonomi.

“Yang lebih notable lagi adalah PPN dan PPnBM yang tumbuhnya mencapai 97,4 persen. PPN dan PPnBM itu dibayar kalau ada transaksi,” ujar Suahasil.

Secara nominal, penerimaan PPN dan PPnBM tercatat sebesar Rp85,9 triliun, atau tumbuh 97,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Badan juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 44 persen. Adapun PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 tercatat meningkat 3,4 persen.

Sementara itu, penerimaan dari PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 tumbuh 4,4 persen, sedangkan sumber pajak lainnya meningkat 24,2 persen.

Secara bruto, total penerimaan pajak tercatat mencapai Rp336,9 triliun, atau tumbuh 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dalam paparannya, Suahasil menyebutkan terdapat empat sektor utama yang menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak bruto pada awal 2026.

Sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan penerimaan mencapai Rp100,1 triliun atau sekitar 28,7 persen dari total penerimaan pajak.

Di posisi kedua, sektor perdagangan menyumbang Rp83,2 triliun atau sekitar 24,7 persen.

Selanjutnya, sektor pertambangan memberikan kontribusi Rp33,8 triliun atau sekitar 10 persen, diikuti sektor keuangan dan asuransi sebesar Rp32,4 triliun atau 9,6 persen dari total penerimaan pajak bruto.

“Empat sektor ini memberikan kontribusi sekitar 74 persen terhadap penerimaan pajak bruto,” kata Suahasil.

Pemerintah menilai tren positif penerimaan pajak pada awal tahun menjadi indikator menguatnya aktivitas ekonomi domestik sekaligus memberikan ruang fiskal yang lebih kuat bagi pelaksanaan program-program pembangunan dalam APBN 2026. (Zen)

Terbaru