Cadangan LPG Hanya 11 Hari, Pemerintah Pastikan Pasokan Aman

Share

Katanews.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan cadangan gas minyak cair (liquified petroleum gas/LPG) nasional berada di kisaran 11 hari per Selasa (14/4/2026), atau sedikit di bawah batas minimum yang ditetapkan sebesar 11,4 hari.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menegaskan bahwa meskipun stok LPG berada di ambang batas, kondisi pasokan energi secara umum masih dalam kategori aman.

“Stok per jenis komoditas berbeda-beda, tapi semua dalam kondisi aman. Khusus untuk LPG, data terakhir sekitar 11 hari,” ujar Laode, Rabu (15/4/2026).

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak dan tidak melakukan panic buying yang berpotensi memperparah tekanan pasokan.

Menurut Laode, kelangkaan LPG biasanya dipicu oleh lonjakan pembelian berlebih, gangguan distribusi, serta faktor cuaca dan alam. Karena itu, stabilitas pasokan dinilai sangat bergantung pada perilaku konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi mengambil langkah mitigasi dengan menginstruksikan kilang LPG swasta untuk memprioritaskan penjualan ke PT Pertamina Patra Niaga. Kebijakan ini bertujuan mengalihkan sebagian pasokan LPG industri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam menyebutkan bahwa prioritas distribusi diberikan agar pasokan masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan impor dan produksi domestik yang terbatas.

Data Ditjen Migas menunjukkan, impor LPG Indonesia pada Januari hingga Februari 2026 mencapai 1,31 juta metrik ton atau sekitar 83,97% dari total kebutuhan nasional sebesar 1,56 juta metrik ton. Sementara itu, produksi dalam negeri pada periode yang sama hanya sekitar 130.000 metrik ton.

Kebutuhan LPG nasional tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari, sehingga ketergantungan terhadap impor masih sangat tinggi. Mayoritas impor berasal dari Amerika Serikat dengan porsi 68,91%, disusul Uni Emirat Arab (11,83%), Arab Saudi (7,36%), Qatar (5,21%), Australia (3,81%), dan Kuwait (2,61%).

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui Indonesia sempat mengalami kendala pasokan LPG, namun kondisi tersebut diklaim telah teratasi sejak awal April 2026.

“Masa sulit LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Sekarang cadangan sudah di atas 10 hari, dan dalam waktu dekat kapal tambahan akan masuk,” kata Bahlil.

Meski demikian, posisi stok yang masih berada di bawah ambang minimum nasional menjadi perhatian, terutama di tengah ketergantungan impor dan potensi gangguan distribusi global. (Zen)

Terbaru