Katanews.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian Republik Indonesia mengungkap sejumlah kendala struktural yang menyebabkan produktivitas tebu nasional masih rendah. Hingga saat ini, rata-rata produksi gula tercatat hanya mencapai 4,74 ton per hektare, jauh di bawah capaian historis industri gula nasional.
Dalam keterangannya, pemerintah menyebut hambatan terjadi dari sektor hulu hingga hilir. Di tingkat perkebunan, masalah utama meliputi usia tanaman tebu yang sudah tua, keterbatasan bibit unggul, serta praktik budidaya yang belum optimal. Selain itu, infrastruktur irigasi yang belum memadai dan terbatasnya akses permodalan bagi petani turut memperlambat peningkatan produksi.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa persoalan tidak hanya terjadi di sektor hulu, tetapi juga di industri pengolahan.
“Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua dengan rendemen rendah. Revitalisasi memang terus dilakukan melalui suntikan modal negara, namun peningkatan kinerja tidak akan optimal tanpa pasokan tebu berkualitas,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam pengembangan industri gula nasional. Pertama, aspek teknis produksi di pabrik rafinasi lama yang membutuhkan investasi besar untuk beralih dari bahan baku gula mentah ke tebu.
“Perubahan ini memerlukan pembangunan fasilitas baru serta penyesuaian lini produksi yang sebelumnya tidak dirancang untuk pengolahan berbasis tebu,” kata Faisol.
Kedua, persoalan lokasi pabrik rafinasi yang mayoritas berada di kawasan pelabuhan seperti di wilayah Banten, namun minim ketersediaan lahan perkebunan tebu. Ketiga, tantangan logistik, di mana tebu harus segera diproses setelah panen untuk menjaga rendemen tetap optimal.
“Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga kualitas hasil akhir,” tambahnya.
Sorotan juga datang dari kalangan akademisi. Dosen Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Yuvensius Sri Susilo, menilai kualitas gula produksi BUMN masih tertinggal akibat penggunaan mesin yang sudah usang.
“Faktor mesin yang tua membuat kualitas gula tidak optimal, terlihat dari warna yang cenderung kusam atau kekuningan dibandingkan produk swasta,” jelasnya.
Ia mendorong adanya peremajaan mesin serta restrukturisasi manajemen operasional untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Di sisi lain, pengamat pertanian dari Institut Pertanian Bogor, Purwono MS, menilai ketimpangan efisiensi antar pabrik menjadi salah satu penyebab kerugian di sektor industri gula. Ia menyebut bahwa peluang swasembada gula konsumsi relatif lebih terbuka dibandingkan gula rafinasi.
“Untuk gula kristal putih, areal dan pabrik sudah tersedia. Namun untuk gula rafinasi, roadmap-nya belum jelas dan realisasi pembangunan fasilitas pendukung juga belum terlihat signifikan,” ujarnya.
Pemerintah sendiri menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton pada 2026 sebagai bagian dari upaya menuju swasembada gula pada 2028. Target tersebut diperkuat melalui integrasi 36 pabrik gula oleh ID Food serta pembukaan lahan baru seluas 200.000 hektare yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023.
Meski demikian, berbagai tantangan struktural yang belum terselesaikan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian industri gula nasional. (Las)