Strategi Baru Pariwisata RI: Asia Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian Dunia

Share

Katanews.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengalihkan strategi pemasaran internasional dengan memfokuskan target wisatawan ke kawasan Asia, menyusul meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengatakan langkah tersebut merupakan strategi penyesuaian (pivot) dari sebelumnya yang berfokus pada pasar Eropa dan Amerika.

“Langkah refocusing yang kami lakukan adalah pivot. Dari sebelumnya berfokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini kami mengarahkan perhatian lebih besar ke kawasan Asia,” ujar Made dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards bertajuk “Resilient Leadership in the Age of Disruption” di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026), sebagaimana dikutip dari siaran pers Kemenpar, Senin (27/4).

Made menjelaskan, pasar prioritas kini mencakup negara-negara ASEAN seperti Malaysia dan Singapura, serta Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Korea, Australia, dan Selandia Baru.

Menurutnya, negara-negara tersebut dinilai strategis karena memiliki kedekatan geografis, akses penerbangan langsung, serta tidak bergantung pada rute transit yang melewati kawasan konflik.

“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” katanya.

Namun demikian, perubahan strategi ini juga memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya persaingan dengan destinasi wisata lain di kawasan Asia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kemenpar mendorong inovasi serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam promosi pariwisata nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperluas program co-branding partners melalui kerja sama dengan berbagai merek lokal dan internasional.

“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” ujar Made.

Sementara itu, Founder dan CEO The Iconomics, Bram S. Putro, menilai langkah refocusing tersebut mencerminkan kepemimpinan yang adaptif di tengah disrupsi global.

“Strategi ini menunjukkan optimisme dan ketangguhan para pemimpin dalam menghadapi tantangan, serta kemampuan untuk tetap tumbuh di tengah kondisi yang dinamis,” katanya.

Kemenpar menyatakan optimistis bahwa melalui strategi yang adaptif, kolaborasi yang kuat, serta inovasi berkelanjutan, sektor pariwisata Indonesia dapat terus pulih dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. (Zen)

Terbaru