Katanews.com, JAKARTA — Virus Hanta kembali menjadi perhatian internasional setelah dilaporkan menginfeksi sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus yang dikenal menyerang paru-paru dan ginjal tersebut.
Kasus ini memicu meningkatnya kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus, terutama karena penularannya berkaitan erat dengan hewan pengerat seperti tikus.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Rio Yansen Cikutra, menjelaskan virus hanta merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang telah terinfeksi.
“Infeksi hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission atau ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi,” ujar dr. Rio dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, risiko penularan virus hanta meningkat di area tertutup yang jarang dibersihkan seperti gudang, loteng, bangunan kosong, hingga tempat dengan populasi tikus tinggi.
Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Gejala Virus Hanta Bisa Berkembang Cepat
Dr. Rio mengungkapkan gejala virus hanta umumnya muncul dalam dua tahap. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot hebat terutama di bagian punggung dan paha, disertai tubuh lemas.
Tak hanya itu, sejumlah pasien juga mengalami gangguan pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, hingga diare.
Namun dalam kondisi yang lebih serius, virus hanta dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pasien juga berisiko mengalami tekanan darah menurun drastis, gangguan ginjal, hingga syok.
Virus ini diketahui dapat menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal serta pembuluh darah.
Pekerja Lapangan hingga Pendaki Gunung Masuk Kelompok Rentan
Kelompok masyarakat yang bekerja di sektor pertanian, perkebunan, maupun yang sering beraktivitas di alam bebas disebut memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus hanta karena berpotensi bersentuhan langsung dengan habitat tikus.
Aktivitas seperti berkemah, membersihkan gudang lama, hingga memasuki bangunan kosong tanpa perlindungan dinilai dapat meningkatkan potensi infeksi.
Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap kebersihan lingkungan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.
“Jika mengalami demam tinggi disertai nyeri otot hebat setelah beraktivitas di lingkungan berisiko, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan,” kata dr. Rio.
Pencegahan Virus Hanta Dimulai dari Kebersihan Lingkungan
Untuk mencegah penularan virus hanta, masyarakat diimbau menjaga sanitasi rumah dan lingkungan, termasuk menutup lubang atau celah yang memungkinkan tikus masuk ke dalam bangunan.
Pembersihan area berdebu juga disarankan menggunakan metode pel basah agar partikel berbahaya tidak beterbangan dan terhirup.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi menular seperti virus hanta.
Menurutnya, keberadaan ruang isolasi modern dan tenaga medis yang kompeten menjadi bagian penting dalam upaya penanganan cepat apabila ditemukan kasus infeksi hantavirus di masyarakat. (Dd)