Katanews.com, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan potensi kemarau panjang akibat fenomena super El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026. Kondisi ini dinilai berisiko besar mengganggu produksi pangan di sejumlah wilayah Indonesia.
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyebut fenomena yang dijuluki “Godzilla El Nino” diproyeksikan mulai terasa sejak April 2026 dan berlangsung hingga puncak musim kemarau.
“El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada perubahan pola cuaca global, termasuk penurunan curah hujan di Indonesia,” ujar Erma dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).
BRIN mengungkapkan, kemunculan El Nino kuat tersebut berpotensi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi keduanya diprediksi memperparah kondisi kekeringan di berbagai wilayah.
Menurut Erma, kondisi ini akan menekan pembentukan awan di wilayah Indonesia, sehingga hujan lebih banyak terjadi di kawasan Samudra Pasifik. Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia justru mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.
“Dampaknya, wilayah lumbung padi nasional seperti Pantai Utara (Pantura) Jawa berpotensi mengalami kekeringan yang dapat mengganggu produksi pangan,” jelasnya.
Berdasarkan model prediksi musim BRIN, dampak awal diperkirakan mulai dirasakan di wilayah selatan Indonesia pada April hingga Juli 2026. Kemarau kering berpotensi meluas di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.
Sebaliknya, wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku diprediksi masih akan mengalami curah hujan tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Selain itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga diperkirakan meningkat di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan, terutama pada periode puncak kemarau.
BRIN menekankan pentingnya langkah mitigasi sejak dini, baik untuk mengantisipasi kekeringan maupun potensi bencana lainnya di wilayah dengan curah hujan tinggi.
Di tengah ancaman tersebut, BRIN juga melihat adanya peluang, khususnya dalam optimalisasi produksi garam di wilayah selatan Indonesia. Kondisi kemarau panjang dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendukung target swasembada garam nasional pada periode 2026 hingga 2027.
Pemerintah diharapkan dapat menyiapkan strategi adaptasi yang komprehensif guna meminimalkan dampak terhadap sektor pangan, lingkungan, dan kebencanaan. (Zen)