Katanews.com, BEIJING — China resmi meluncurkan model kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) khusus sektor pertanian bernama Green Shield. Teknologi berbasis model bahasa besar (large language model/LLM) sumber terbuka itu dikembangkan untuk meningkatkan perlindungan tanaman sekaligus mencegah penyalahgunaan pestisida di sektor pertanian modern.
Peluncuran Green Shield dilaporkan Science and Technology Daily pada Selasa (26/5/2026). Teknologi tersebut dikembangkan oleh Universitas Pertanian Nanjing atau Nanjing Agricultural University (NAU) bersama National Key Laboratory of Agricultural Biosafety dan lebih dari 30 institusi industri di China.
Green Shield dirancang sebagai AI pertanian yang mampu memberikan panduan ilmiah kepada petani terkait pengendalian hama, penyakit tanaman, hingga penggunaan pestisida yang aman dan sesuai regulasi nasional.
Pemimpin proyek sekaligus Wakil Dekan Fakultas Perlindungan Tanaman NAU, Dong Shameng, mengatakan China masih menghadapi tantangan besar berupa serangan hama tanaman dan meningkatnya resistensi pestisida di berbagai wilayah pertanian.
Menurut dia, petani membutuhkan pendampingan teknis yang akurat di tingkat lapangan. Namun, model AI umum dinilai belum mampu memberikan jawaban spesifik terkait perlindungan tanaman.
“Model AI umum sering memberikan jawaban yang tidak akurat untuk pertanyaan perlindungan tanaman dan bahkan berpotensi menghasilkan rekomendasi penggunaan pestisida yang berisiko,” ujar Dong dalam peluncuran Green Shield pada Senin (25/5/2026).
Untuk meningkatkan akurasi, tim pengembang membangun korpus data khusus berisi lebih dari 2,5 miliar token yang dikumpulkan dari jurnal ilmiah, paten, standar nasional, hingga laporan lapangan sektor pertanian.
Database tersebut mencakup berbagai komoditas utama seperti padi, gandum, kedelai, sayuran, dan tanaman buah. Sistem juga mengintegrasikan data pemantauan hama, metode pengendalian ramah lingkungan, serta registrasi pestisida nasional.
Profesor Fakultas Manajemen Informasi NAU, Wang Dongbo, menjelaskan Green Shield mampu mengenali jenis tanaman, fase pertumbuhan, hingga gejala penyakit tanaman dengan tingkat presisi tinggi.
Teknologi AI pertanian itu kemudian menghasilkan rekomendasi pengendalian terintegrasi berdasarkan analisis data yang telah diverifikasi.
“Dengan pelatihan yang tertarget, model ini mampu mengenali hama secara presisi tinggi,” kata Wang.
Ia menambahkan, sebelum memberikan rekomendasi kepada pengguna, sistem secara otomatis melakukan pengecekan silang terhadap basis data pestisida nasional China. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan bahan kimia yang direkomendasikan tidak termasuk daftar larangan dan sesuai dengan dosis penggunaan yang diizinkan.
Setiap rekomendasi yang melanggar aturan akan langsung diblokir dan dikoreksi otomatis oleh sistem AI tersebut.
Sementara itu, Wakil Presiden NAU Wang Yuanchao mengatakan pengembangan Green Shield akan terus dilanjutkan melalui uji lapangan dan pembaruan sistem secara berkala.
Menurutnya, teknologi AI pertanian menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi digital sektor pangan China, mulai dari proses budidaya hingga rantai produksi modern.
NAU menargetkan Green Shield menjadi alat digital yang mudah digunakan petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih aman dan berkelanjutan. (Las)