Katanews.com, Sukabumi – Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Budi Azhar Mutawali menilai peresmian instalasi reaktor biogas dan Solar Dryer House di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kamis (12/2/2026) lalu, sebagai langkah strategis yang menempatkan Kabupaten Sukabumi dalam peta nasional pengembangan energi terbarukan berbasis desa. Program yang diinisiasi pemerintah daerah bersama Yayasan Rumah Energi serta dukungan PT Insight Investment Management dinilai bukan sekadar proyek teknologi, melainkan solusi konkret bagi ketahanan energi dan pangan lokal.
Menurut Budi Azhar Mutawali, inisiatif yang turut dihadiri Bupati Asep Japar tersebut memperlihatkan bahwa daerah memiliki kapasitas kuat untuk menghadirkan inovasi energi yang berdampak langsung pada masyarakat. Ia menegaskan, DPRD melihat program ini sebagai wujud kolaborasi yang efektif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam memperkuat kemandirian ekonomi desa di Kabupaten Sukabumi.
“Program biogas dan Solar Dryer House bukan hanya simbol pembangunan fisik, tetapi juga investasi jangka panjang untuk masa depan desa. DPRD memandang langkah ini sejalan dengan kebutuhan nasional dalam mempercepat transisi energi yang tetap berpihak pada sektor pertanian dan masyarakat kecil,” ujar Budi, Sabtu (14/2/2026).
Ia menjelaskan, pemanfaatan limbah dapur program Makan Bergizi Gratis menjadi biogas menunjukkan pendekatan ekonomi sirkular yang efektif. Selain mengurangi limbah, energi yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan memasak harian serta mendukung kegiatan produktif masyarakat. “Ini contoh inovasi lokal yang menjawab persoalan energi sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” tambahnya.
Budi juga menilai keberadaan Solar Dryer House memberi dampak nyata bagi petani, khususnya dalam menjaga kualitas hasil panen dan stabilitas harga. Teknologi pengering berbasis tenaga surya dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada cuaca sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas unggulan desa. Menurutnya, keberhasilan model ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah lain yang memiliki karakteristik pertanian serupa.
Lebih jauh, DPRD menekankan pentingnya penguatan regulasi dan dukungan anggaran agar program serupa dapat berkembang secara berkelanjutan. “Kami mendorong agar inovasi energi terbarukan berbasis desa ini menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah sekaligus kontribusi nyata Sukabumi dalam agenda ketahanan energi nasional,” katanya.
Budi Azhar Mutawali menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan program di Simpenan harus dijadikan momentum mempercepat transformasi ekonomi desa. Ia menilai integrasi energi hijau, pengelolaan limbah, serta peningkatan produktivitas pertanian merupakan fondasi penting untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Sukabumi sebagai daerah percontohan inovasi energi berkelanjutan di Indonesia. (Adv, Han)