Katanews.com, JAKARTA — Ketidakpastian geopolitik global dinilai semakin memperbesar ancaman terhadap stabilitas pasokan energi di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut mendorong pentingnya riset energi ASEAN sebagai dasar memperkuat ketahanan energi regional.
Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai negara-negara ASEAN perlu melakukan penelitian mendalam terkait posisi, kebutuhan, serta ketergantungan energi masing-masing negara di tengah dinamika geopolitik dunia, terutama pasca meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Rezasyah, setiap negara di kawasan memiliki karakteristik kebutuhan energi yang berbeda. Sejumlah negara ASEAN masih bergantung pada minyak bumi sebagai sumber utama energi, sementara sebagian lainnya mulai mempercepat transisi menuju energi alternatif dan energi terbarukan.
“ASEAN harus memahami peta ketahanan energi masing-masing negara agar memiliki strategi bersama menghadapi ancaman krisis pasokan global,” ujar Rezasyah di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menilai percepatan ratifikasi ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA) menjadi langkah penting, meski implementasinya diperkirakan tidak mudah dilakukan secara merata di seluruh negara anggota.
Indonesia Disebut Punya Posisi Strategis di ASEAN
Rezasyah menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam kerja sama energi ASEAN karena kebutuhan energi nasional yang jauh lebih besar dibandingkan sebagian negara anggota lainnya.
Sebagai negara dengan populasi terbesar di kawasan dan pembangunan yang terus berlangsung di berbagai daerah, kebutuhan minyak Indonesia dinilai akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi membentuk posisi tawar baru Indonesia dalam diplomasi energi kawasan, khususnya dalam hubungan dengan negara-negara eksportir minyak dunia.
“Indonesia bisa menjadi pemain penting dalam arsitektur ketahanan energi ASEAN karena skala konsumsi energinya sangat besar,” katanya.
Energi Terbarukan Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang
Di tengah ancaman krisis energi global, Indonesia juga dinilai perlu mempercepat diversifikasi energi nasional melalui pengembangan sumber energi terbarukan.
Rezasyah menyebut Indonesia memiliki potensi besar pada sektor energi surya, energi angin, panas bumi, hingga pengolahan sampah menjadi energi alternatif.
Selain itu, ia juga menilai pemerintah perlu membuka kembali pembahasan mengenai pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan damai sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi nasional.
Menurutnya, posisi diplomatik Indonesia yang cukup kuat di tingkat internasional membuka peluang kerja sama teknologi energi dengan berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, China, Australia, dan Jepang.
ASEAN Targetkan Ratifikasi APSA Rampung Tahun Ini
Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn memastikan proses ratifikasi APSA ditargetkan selesai sebelum pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 pada akhir 2026.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat kerja sama sektor energi di Asia Tenggara, termasuk mekanisme saling membantu antarnegara saat terjadi kelangkaan bahan bakar.
“Seluruh negara anggota telah mendapat arahan dari para pemimpin mereka agar proses ratifikasi APSA dipercepat,” ujar Kao Kim Hourn dalam konferensi pers di Jakarta.
Ratifikasi APSA dinilai menjadi langkah strategis ASEAN dalam membangun sistem ketahanan energi kawasan yang lebih terintegrasi di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global. (Ani)