Konflik Timur Tengah Guncang Pasokan Energi, China Ambil Langkah Strategis

Share

Katanews.com, BEIJING – Pemerintah China menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu gejolak pasar minyak dunia.

Dilansir dari ANTARA, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan stabilitas pasokan energi merupakan faktor krusial bagi perekonomian global. Karena itu, semua negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan tanpa hambatan.

“Keamanan energi sangat penting bagi perekonomian global. Semua pihak bertanggung jawab memastikan pasokan energi yang stabil dan lancar. China akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi keamanan energi tersebut,” ujar Guo dalam konferensi pers, Senin (9/3/2026).

Sejalan dengan meningkatnya harga minyak dunia, pemerintah China melalui Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) mengumumkan kenaikan harga eceran bahan bakar domestik mulai Selasa (10/3/2026).

Harga bensin dan solar di pasar domestik masing-masing naik sebesar 695 yuan per ton untuk bensin dan 670 yuan per ton untuk solar. Penyesuaian ini disebut sebagai kenaikan harga paling signifikan sepanjang 2026.

Pemerintah juga menginstruksikan tiga perusahaan minyak terbesar di negara tersebut, yakni China National Petroleum Corporation, Sinopec, dan China National Offshore Oil Corporation, untuk memastikan produksi serta distribusi bahan bakar tetap stabil.

Selain itu, kilang minyak di seluruh China diminta mengatur produksi dan transportasi secara efisien guna menjamin ketersediaan pasokan di pasar domestik serta mematuhi mekanisme penetapan harga nasional.

Saat ini, China menerapkan sistem penyesuaian harga bahan bakar yang mengacu pada fluktuasi harga minyak dunia. Jika harga minyak global berubah lebih dari 50 yuan per ton dan bertahan selama 10 hari kerja, maka harga bahan bakar domestik akan disesuaikan secara proporsional.

Kenaikan harga energi global dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut berdampak langsung pada jalur distribusi energi dunia, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari Teluk Persia.

Gangguan pengiriman di jalur tersebut menyebabkan distribusi energi global terganggu. Selat Hormuz sendiri menyumbang sekitar 20 persen dari perdagangan global minyak, produk petroleum, dan gas alam cair, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional.

Pemerintah China menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi global untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik sekaligus meminimalkan dampak terhadap perekonomian nasional. (Han)

Terbaru