Katanews.com, SUKABUMI — Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai memperluas mekanisasi pertanian Sukabumi untuk menekan biaya produksi sekaligus mengatasi semakin terbatasnya tenaga kerja di sektor pertanian.
Salah satu teknologi yang mulai dimanfaatkan adalah drone penyemprot tanaman. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, menyebut teknologi tersebut mampu memangkas waktu dan biaya penyemprotan secara signifikan.
“Kalau menggunakan drone, satu hektare cukup sekitar satu jam. Kalau menggunakan tenaga manusia, bisa membutuhkan sepuluh orang dalam sehari,” ujar Aep, di sela pembukaan Sukabumi Expo Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 di Lapanga Cangehgar Palabuhanratu, Kamis (10/9/2026) malam.
Menurutnya, penggunaan drone penyemprot berpotensi menghemat biaya hingga Rp5 juta per hektare. Efisiensi ini dinilai penting ketika biaya tenaga kerja menjadi salah satu komponen produksi yang semakin berat bagi petani.
“Harapannya, petani bisa merasakan pengurangan biaya produksi. Mekanisasi ini harus memberikan manfaat nyata bagi petani,” tegasnya.
Tenaga Kerja Pertanian Makin Terbatas
Aep mengatakan mekanisasi bukan lagi sekadar pilihan teknologi, tetapi mulai menjadi kebutuhan karena ketersediaan tenaga kerja pertanian menghadapi tantangan.
“Tenaga kerja di pertanian hari ini sudah mulai agak sulit. Solusinya adalah mekanisasi, mulai dari pengolahan, penyemprotan, sampai panen,” katanya.
Selain drone, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi mendorong pemanfaatan traktor dan mesin panen agar mekanisasi dapat diterapkan dari pengolahan lahan hingga proses panen.
Saat ini terdapat enam unit drone yang dikelola Dinas Pertanian melalui skema brigade alat dan mesin pertanian (alsintan). Drone tersebut tidak diberikan permanen kepada kelompok tani, melainkan digunakan secara bergilir berdasarkan kebutuhan.
“Ini tidak kita serahkan ke kelompok. Sifatnya brigade, sehingga bisa berpindah-pindah sesuai kebutuhan. Kelompok yang membutuhkan bisa membuat surat kepada kita,” jelas Aep.
Pengoperasian drone juga dilakukan oleh operator berlisensi untuk memastikan aspek keselamatan dan ketentuan penerbangan terpenuhi.
Dinas Pertanian menilai pengembangan mekanisasi pertanian Sukabumi perlu diarahkan tidak hanya pada penggunaan drone, tetapi mencakup pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan hingga panen.
Dengan pendekatan tersebut, mekanisasi diharapkan mampu menekan biaya produksi, mempercepat pekerjaan dan menjaga produktivitas petani di tengah keterbatasan tenaga kerja. (Adv, Dd)