Jampangtengah Sukabumi Punya Segudang Potensi, Pertanian Jadi Penopang Ekonomi Warga

Share

Katanews.com, SUKABUMI — Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bukan sekadar kawasan perdesaan di wilayah selatan Sukabumi. Di balik bentang alamnya yang didominasi lahan pertanian dan perkebunan, wilayah ini menyimpan potensi ekonomi yang cukup beragam, mulai dari tanaman pangan, padi gogo, teh, peternakan, perdagangan hingga industri kecil dan menengah.

Potensi Jampangtengah Sukabumi tersebut menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2025, Kecamatan Jampangtengah memiliki luas sekitar 198,49 kilometer persegi, setara 4,77 persen dari luas Kabupaten Sukabumi.

Wilayah tersebut terbagi dalam 11 desa, yakni Bantarpanjang, Bojongtipar, Cijulang, Nangerang, Bojong Jengkol, Bantar Agung, Jampangtengah, Panumbangan, Sindangresmi, Tanjungsari, dan Padabeunghar.

Dengan karakter wilayah yang luas dan basis ekonomi masyarakat yang masih kuat pada sektor primer, Jampangtengah memiliki ruang besar untuk mengembangkan komoditas pertanian sekaligus mendorong hilirisasi hasil produksi.

Pertanian Jadi Kekuatan Utama Jampangtengah

Sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan utama potensi Jampangtengah Sukabumi.

Dokumen Laporan Keuangan Kabupaten Sukabumi 2024 menyebut Jampangtengah sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi tanaman palawija. Komoditas tersebut antara lain jagung dan kedelai. Jampangtengah juga masuk dalam kawasan penanaman padi gogo di Kabupaten Sukabumi.

Potensi tersebut semakin strategis seiring perhatian pemerintah terhadap peningkatan produksi pangan.

Pada Maret 2026, Kementerian Pertanian melakukan kegiatan poligonisasi padi gogo di Desa Bojong Jengkol, Kecamatan Jampangtengah. Kegiatan itu dilakukan untuk memperoleh data luas lahan padi gogo secara lebih akurat sebagai bagian dari penguatan produksi pangan.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian sekaligus penanggung jawab swasembada pangan berkelanjutan untuk Kabupaten Sukabumi, Leli Nuryati, menyebut Kabupaten Sukabumi memiliki lahan padi gogo yang cukup luas.

Artinya, Jampangtengah memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi wilayah produksi pangan bagi kebutuhan lokal, tetapi juga mengambil bagian dalam agenda ketahanan pangan yang lebih luas.

Palawija Jadi Potensi Ekonomi

Selain padi gogo, palawija menjadi salah satu komoditas yang memiliki prospek di Jampangtengah.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi mencatat Jampangtengah sebagai salah satu wilayah dengan potensi tanaman palawija. Untuk komoditas jagung, Jampangtengah termasuk kawasan yang disebut dalam persebaran produksinya. Demikian pula dengan kedelai yang penanamannya cukup luas di wilayah tersebut.

Kondisi ini membuka peluang pengembangan pertanian tidak berhenti pada produksi bahan mentah.

Penguatan pascapanen, pengolahan hasil pertanian, pemasaran dan pengembangan produk turunan menjadi bagian penting agar nilai ekonomi komoditas lebih banyak kembali kepada masyarakat.

Dengan demikian, tantangan Jampangtengah ke depan bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi bagaimana hasil pertanian dapat masuk ke rantai ekonomi yang lebih panjang.

Perkebunan Teh Masih Menjadi Potensi

Potensi lain yang tidak kalah penting adalah perkebunan.

Data produksi komoditas perkebunan Kabupaten Sukabumi menunjukkan Jampangtengah termasuk salah satu kecamatan penghasil teh. Data yang mengacu pada statistik pertanian mencatat produksi teh Jampangtengah mencapai sekitar 125,37 ton pada 2024, meningkat dibandingkan sekitar 120,33 ton pada 2023.

Keberadaan perkebunan teh menunjukkan bahwa ekonomi berbasis lahan di Jampangtengah memiliki karakter yang cukup beragam.

Jika dikembangkan secara terpadu, komoditas perkebunan dapat menjadi bahan baku bagi industri pengolahan, perdagangan hasil pertanian dan produk UMKM.

Potensi ini sekaligus memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi lokal berbasis komoditas unggulan.

Peternakan Menambah Kekuatan Ekonomi Desa

Selain pertanian dan perkebunan, peternakan juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Jampangtengah.

Data BPS menunjukkan sektor peternakan merupakan bagian dari kegiatan usaha pertanian di Kabupaten Sukabumi. Sensus Pertanian 2023 secara khusus memotret usaha pertanian perorangan pada subsektor peternakan sebagai bagian dari basis data pembangunan pertanian daerah.

Pengembangan peternakan di tingkat desa memiliki peluang untuk terhubung dengan sektor pertanian melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan maupun pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk organik.

Model integrasi tersebut dapat memperkuat ekonomi sirkular sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap input dari luar wilayah.

Ada Peluang Industri Kecil dan Menengah

Jampangtengah juga memiliki peluang pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM).

Dalam dokumen Rencana Kerja Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, Jampangtengah termasuk salah satu wilayah yang menjadi sasaran pengembangan wirausahawan baru dan industri rumah tangga, kecil serta menengah.

Posisi ini penting karena pengembangan IKM dapat menjadi jembatan antara potensi sumber daya alam dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Produk pertanian dan perkebunan yang selama ini dijual sebagai bahan mentah dapat diarahkan menjadi produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Dengan basis pertanian yang kuat, pengembangan industri pengolahan pangan menjadi salah satu peluang yang dapat terus dikembangkan di Jampangtengah.

Perdagangan dan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Aktivitas perdagangan menjadi bagian penting dari mata rantai ekonomi masyarakat Jampangtengah.

Hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan produk rumah tangga membutuhkan jaringan pemasaran agar dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Karena itu, penguatan UMKM, akses pasar, kemasan produk, pemasaran digital dan konektivitas antardesa menjadi faktor penting dalam mengembangkan potensi ekonomi Jampangtengah.

Pengembangan ekonomi lokal tidak cukup hanya mengandalkan produksi. Produk yang berkualitas harus memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas.

$Potensi Sumber Daya Alam Perlu Dikelola Berkelanjutan*

Jampangtengah juga memiliki potensi sumber daya alam lainnya.

Dokumen statistik daerah yang pernah diterbitkan BPS mencatat kawasan Jampangtengah memiliki sumber daya batu gamping yang digunakan sebagai bahan baku semen dan menyebut potensinya masih cukup besar berdasarkan referensi geologi wilayah.

Dalam dokumen lain mengenai potensi sumber daya Kabupaten Sukabumi, Jampangtengah juga disebut memiliki potensi bahan galian seperti fosfat, mangan, batu merah dan batu sirap.

Namun, pengembangan sumber daya alam perlu ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang memperhatikan lingkungan, keselamatan, tata ruang serta kepentingan masyarakat.

Potensi sumber daya alam baru akan menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara bertanggung jawab dan memberikan nilai tambah bagi daerah.

11 Desa, Karakter dan Potensi yang Beragam

Keberadaan 11 desa membuat Jampangtengah memiliki karakter pembangunan yang tidak seragam.

Bantarpanjang, Bojongtipar, Cijulang, Nangerang, Bojong Jengkol, Bantar Agung, Jampang Tengah, Panumbangan, Sindangresmi, Tanjungsari dan Padabeunghar memiliki kondisi wilayah serta aktivitas ekonomi masyarakat masing-masing.

Keragaman tersebut dapat menjadi kekuatan apabila pembangunan berbasis potensi desa dilakukan secara terarah.

Desa dengan basis pertanian dapat diperkuat sebagai sentra produksi. Wilayah perkebunan dapat diarahkan pada peningkatan produktivitas dan hilirisasi. Sementara desa dengan aktivitas perdagangan dan usaha masyarakat yang berkembang dapat didorong menjadi pusat pemasaran produk lokal.

Tantangan Jampangtengah: Jangan Berhenti Jadi Pemasok Bahan Mentah

Besarnya potensi Jampangtengah Sukabumi sekaligus menghadirkan tantangan.

Pertanian, perkebunan dan peternakan memang menjadi fondasi ekonomi masyarakat. Namun, nilai ekonomi yang lebih besar akan tercipta apabila hasil produksi tidak seluruhnya keluar wilayah dalam bentuk bahan mentah.

Hilirisasi menjadi kata kunci.

Petani bukan hanya dituntut meningkatkan produksi, tetapi juga perlu memiliki akses terhadap pengolahan, teknologi, pembiayaan, pasar dan informasi harga.

Begitu pula UMKM. Produk lokal akan sulit berkembang jika hanya mengandalkan pasar tradisional tanpa penguatan kemasan, kualitas dan pemasaran.

Karena itu, pembangunan Jampangtengah ke depan dapat diarahkan pada penguatan rantai nilai dari produksi, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.

Jampangtengah Punya Modal untuk Tumbuh

Dengan wilayah sekitar 198,49 kilometer persegi, 11 desa, basis pertanian yang kuat, potensi perkebunan teh, peternakan, IKM dan sumber daya alam, Jampangtengah memiliki modal ekonomi yang cukup besar untuk terus berkembang.

Pengembangan padi gogo, palawija dan komoditas perkebunan dapat menjadi fondasi ketahanan pangan dan ekonomi. Sementara sektor peternakan, perdagangan, UMKM dan industri pengolahan berpeluang memperbesar nilai tambah di tingkat masyarakat.

Pemerintah kecamatan dan desa bersama pelaku usaha serta masyarakat memiliki peran penting untuk memastikan potensi tersebut tidak hanya menjadi data dalam statistik, tetapi benar-benar berubah menjadi peluang usaha dan peningkatan kesejahteraan.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, Jampangtengah Sukabumi berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu kawasan strategis berbasis pertanian dan ekonomi produktif di Kabupaten Sukabumi. (Adv, Zen)

Terbaru