Katanews.com, JAKARTA — Pemanfaatan teknologi medis berbasis kedokteran nuklir seperti PET CT Scan dan SPECT CT Scan dinilai menjadi langkah strategis dalam meningkatkan deteksi dini penyakit, khususnya kanker, di Indonesia.
Deteksi dini selama ini menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan penanganan penyakit. Namun, dalam praktiknya, banyak kasus baru teridentifikasi saat telah memasuki stadium lanjut, sehingga memerlukan penanganan yang lebih kompleks.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses terhadap teknologi medis canggih yang mampu mendeteksi penyakit sejak tahap awal. Padahal, perkembangan teknologi kedokteran telah menghadirkan metode diagnosis yang lebih akurat dan komprehensif.
Dokter spesialis kedokteran nuklir dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Lim Andreas, Sp.KN, menjelaskan bahwa PET CT Scan dan SPECT CT Scan memiliki fungsi yang saling melengkapi meskipun menggunakan prinsip kerja berbeda.
“PET CT Scan umumnya digunakan dalam bidang onkologi untuk menilai metabolisme gula pada sel, baik jinak maupun ganas. Sementara SPECT CT Scan digunakan untuk mengevaluasi fungsi berbagai organ. Keduanya bertujuan menegakkan diagnosis yang lebih akurat,” ujar dr. Lim, Rabu (25/3/2026).
PET CT Scan dikenal sebagai metode yang berfokus pada aktivitas metabolisme sel. Teknologi ini efektif untuk mendeteksi sel kanker aktif, menentukan stadium penyakit, serta memantau penyebaran dan respons terhadap terapi.
Pemeriksaan ini banyak dimanfaatkan pada berbagai jenis kanker, seperti paru-paru, payudara, tiroid, kolorektal, hati, hingga kanker sistem reproduksi serta kepala dan leher. Selain itu, PET CT Scan juga berperan dalam evaluasi pascaterapi dan pemantauan jangka panjang pasien.
Di sisi lain, SPECT CT Scan digunakan untuk menilai fungsi organ dan jaringan secara lebih spesifik, sehingga dapat membedakan kondisi normal dan abnormal dengan lebih akurat.
Penggunaan SPECT CT Scan tidak terbatas pada kanker. Teknologi ini juga digunakan untuk mengevaluasi berbagai penyakit lain, seperti gangguan jantung, otak, paru-paru, ginjal, hingga tulang.
Selain itu, SPECT CT Scan juga dimanfaatkan dalam pemantauan terapi, termasuk pengobatan yodium radioaktif serta deteksi penyebaran kanker ke tulang. Hal ini membantu dokter dalam menyusun rencana terapi yang lebih tepat.
Keunggulan kedua teknologi tersebut terletak pada kemampuannya menghasilkan citra beresolusi tinggi, sehingga memberikan gambaran kondisi tubuh secara lebih detail. Proses pemeriksaan juga relatif cepat dan dirancang dengan paparan radiasi yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional.
Meski demikian, ketersediaan layanan PET CT Scan dan SPECT CT Scan di Indonesia masih terbatas. Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut karena membutuhkan investasi teknologi yang besar.
Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjadi salah satu rumah sakit yang telah menyediakan layanan ini melalui Oncology Center yang dirancang untuk memberikan perawatan kanker secara menyeluruh.
Dalam praktiknya, penggunaan teknologi tersebut dilakukan berdasarkan keputusan klinis yang matang. Tim dokter yang tergabung dalam Tumor Board bekerja secara kolaboratif untuk menentukan langkah diagnosis dan terapi terbaik bagi pasien.
Pendekatan multidisiplin ini dinilai mampu meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus efektivitas pengobatan. Selain itu, pasien juga mendapatkan pendampingan melalui layanan Patient Navigator yang membantu memahami setiap tahapan perawatan.
Masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan ini disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter sebagai langkah awal. Penjadwalan pemeriksaan dapat dilakukan melalui layanan call center maupun platform digital.
Akses informasi kesehatan juga semakin mudah melalui aplikasi seperti MyCare yang menyediakan edukasi serta pemantauan kondisi tubuh secara mandiri.
Dengan hadirnya teknologi PET CT Scan dan SPECT CT Scan, peluang deteksi dini penyakit semakin terbuka. Pemanfaatan teknologi medis modern diharapkan dapat mendorong perubahan pendekatan layanan kesehatan dari reaktif menjadi preventif, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan dan kualitas hidup pasien meningkat. (Ani)