Katanews.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap tingginya angka hipertensi lansia di Indonesia setelah pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari 6,8 juta lansia yang mengikuti pemeriksaan, sebanyak 4,36 juta orang atau 63,5 persen terdeteksi mengalami hipertensi.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan kondisi tersebut menjadi peringatan serius karena hipertensi pada lansia dapat memicu berbagai penyakit kronis berbahaya.
“Hipertensi pada lansia memiliki konsekuensi klinis dan sosial yang berat. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis,” ujar Imran di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan, hipertensi jangka panjang juga berkaitan dengan percepatan penurunan fungsi kognitif yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan perawatan jangka panjang bagi lansia.
Secara global, Kemenkes mencatat sekitar 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi. Namun, hanya sekitar satu dari empat penderita yang tekanan darahnya dapat terkontrol dengan baik. Kondisi tersebut diperparah oleh tren penuaan populasi dan urbanisasi yang terus meningkat, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia.
Menurut Imran, tingginya prevalensi hipertensi pada peserta skrining lansia juga diikuti gangguan mobilitas yang cukup besar. Situasi ini membuat masalah kesehatan cepat berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi bagi keluarga.
Karena itu, penanganan hipertensi lansia dinilai tidak cukup hanya melalui pemberian obat. Pemerintah mendorong pendekatan yang lebih komprehensif melalui rehabilitasi, dukungan bagi caregiver, hingga perlindungan pembiayaan kesehatan bagi lansia miskin.
Kemenkes juga menekankan pentingnya deteksi dini hipertensi melalui pemeriksaan tekanan darah rutin sejak usia 18 tahun dan pemeriksaan tahunan khusus bagi kelompok lanjut usia.
Selain skrining rutin, masyarakat diminta menerapkan pola hidup sehat untuk menekan risiko hipertensi. Langkah tersebut meliputi pengurangan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari, aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, membatasi konsumsi alkohol, serta berhenti merokok.
“Deteksi dini dan manajemen di layanan primer mampu mengurangi komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, hingga penurunan kognitif,” kata Imran.
Dalam upaya pengendalian hipertensi nasional, Kemenkes mendorong kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat.
Pemerintah juga menargetkan momentum Hari Hipertensi 2026 sebagai langkah percepatan perluasan cakupan skrining, penguatan layanan primer, serta integrasi layanan rehabilitasi dan dukungan sosial bagi lansia.
Dengan strategi terpadu tersebut, Kemenkes berharap hipertensi pada lansia dapat dikendalikan sehingga kelompok usia lanjut tetap hidup sehat, mandiri, dan produktif. (Zen)