Kesehatan Jantung Perempuan Terancam Saat Menuju Menopause, Ini Penyebabnya

Share

Katanews.com, JAKARTA — Penelitian terbaru mengungkap masa perimenopause menjadi fase krusial yang perlu mendapat perhatian serius terkait kesehatan jantung perempuan. Penurunan hormon estrogen saat transisi menuju menopause disebut meningkatkan risiko gangguan metabolik dan penyakit kardiovaskular secara signifikan.

Hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menunjukkan perempuan pada masa perimenopause memiliki kemungkinan hampir dua kali lebih besar mengalami kesehatan jantung buruk dibandingkan perempuan pramenopause.

Penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 9.200 perempuan di Amerika Serikat yang mewakili sekitar 60 juta perempuan dewasa. Para peserta dibagi dalam tiga kelompok, yakni pramenopause, perimenopause, dan pascamenopause berdasarkan riwayat menstruasi mereka.

Peneliti menggunakan metode penilaian Life’s Essential 8 (LE8) dari American Heart Association untuk mengukur kondisi kesehatan kardiovaskular peserta. Penilaian itu mencakup aktivitas fisik, pola makan, kualitas tidur, kebiasaan merokok, indeks massa tubuh, tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah.

Hasil penelitian menunjukkan skor kesehatan jantung perempuan terus menurun ketika memasuki fase perimenopause hingga pascamenopause.

Selain peningkatan risiko penyakit jantung, perempuan perimenopause juga tercatat memiliki risiko 76 persen lebih tinggi mengalami kadar lemak darah buruk serta risiko 83 persen lebih tinggi mengalami gangguan gula darah dibandingkan kelompok pramenopause.

Peneliti menilai kondisi tersebut dipengaruhi perubahan hormon estrogen yang selama ini berfungsi melindungi kesehatan jantung perempuan. Estrogen diketahui membantu mengatur tekanan darah, kadar kolesterol, hingga metabolisme gula darah. Namun, saat memasuki perimenopause, kadar hormon tersebut mulai berfluktuasi dan menurun secara bertahap.

Temuan ini memperkuat anggapan bahwa masa transisi menuju menopause merupakan periode rentan terhadap gangguan metabolik dan kardiovaskular.

Meski demikian, peneliti mencatat studi tersebut memiliki keterbatasan karena hanya menggambarkan kondisi dalam satu periode waktu dan tidak mengikuti peserta dalam jangka panjang. Selain itu, sejumlah data seperti pola makan, aktivitas fisik, dan riwayat menstruasi diperoleh melalui laporan pribadi peserta sehingga berpotensi memunculkan bias.

Para ahli menilai hasil penelitian tetap menjadi alarm penting bagi perempuan untuk mulai menjaga kesehatan jantung sejak memasuki masa perimenopause.

Penerapan pola hidup sehat dinilai menjadi langkah utama untuk menekan risiko penyakit jantung selama perubahan hormonal berlangsung. Peneliti menyebut pola makan sehat seperti metode DASH, yang kaya sayur, buah, biji-bijian utuh, serta protein rendah lemak, dapat membantu menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap stabil.

Aktivitas fisik rutin juga dianjurkan untuk menjaga sensitivitas insulin, kesehatan pembuluh darah, serta kestabilan berat badan selama masa transisi menopause.

Selain itu, perempuan disarankan melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan kolesterol lebih dini tanpa menunggu menopause terjadi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendeteksi perubahan metabolik sebelum berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius. (Las)

Terbaru