Katanews.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino masih akan berlangsung hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering dari normal dan meningkatkan ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan proyeksi tersebut juga berpotensi disertai fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada periode September hingga Desember 2026. Kombinasi kedua fenomena iklim itu diperkirakan memperkuat dampak musim kemarau tahun ini.
“Informasi iklim ini sejalan dengan prediksi BMKG, di mana fenomena El Nino diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan memicu kondisi kemarau yang lebih kering dari normal,” kata Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
Direktorat Klimatologi BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus hingga September. Sebanyak 437 Zona Musim diprediksi mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Menurut Teuku Faisal, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ancaman kekeringan ekstrem yang berdampak langsung terhadap tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Ancaman kekeringan ekstrem ini berimplikasi langsung pada tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di mana BMKG mencatat telah muncul 4.900 titik panas hingga akhir Juli 2026,” ujarnya.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah rawan karhutla dan kekeringan, termasuk Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, serta posko pendukung yang dipusatkan di Jawa Barat.
BMKG juga memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI-Polri, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengoptimalkan upaya modifikasi cuaca serta penanganan kebakaran di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi nasional menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, sehingga pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air, serta kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau. (Las)