Katanews.com, SUKABUMI – Keberhasilan penyerapan gabah petani menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. Kabupaten Sukabumi kembali mencatat capaian positif setelah realisasi penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) oleh Perum Bulog hingga akhir Juli 2026 mencapai 38.233,94 ton, atau 171,86 persen dari target awal sebesar 22.247 ton.
Capaian tersebut terungkap dalam Rapat Evaluasi Penyerapan GKP dan Beras Wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi yang diselenggarakan Perum Bulog Cabang Cianjur. Pertemuan itu dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, bersama para pemangku kepentingan sektor pertanian.
Selain melampaui target, peningkatan serapan gabah juga terlihat di wilayah Kodim 0622/Kabupaten Sukabumi. Hingga 24 Juli 2026, Bulog telah menyerap 28.462 ton gabah atau sekitar 3,25 persen dari target produksi padi Kabupaten Sukabumi tahun 2026 yang mencapai 876.206 ton.
Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencapai 12.668 ton atau sekitar 1,18 persen dari total produksi padi.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan peningkatan serapan gabah menunjukkan semakin kuatnya sinergi antara pemerintah, Bulog, penyuluh pertanian, dan petani dalam menjaga rantai pasok pangan nasional.
“Capaian ini menjadi kabar baik bagi petani Kabupaten Sukabumi. Penyerapan gabah yang terus meningkat menunjukkan hasil panen petani semakin mampu masuk ke rantai pasok pangan nasional. Harapan kami, kondisi ini berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani,” ujar Aep, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, semakin besar gabah yang diserap Bulog, semakin besar pula kepastian pasar bagi petani. Kondisi tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga gabah sekaligus memberikan kepastian usaha bagi pelaku sektor pertanian.
Aep menjelaskan, peningkatan serapan gabah tidak lepas dari program pendampingan yang dilakukan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi melalui penyuluh pertanian dan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT).
Pemerintah daerah juga terus mendorong peningkatan produktivitas melalui penyaluran alat dan mesin pertanian (alsintan), bantuan sarana pascapanen, serta distribusi benih unggul di berbagai sentra produksi padi.
“Kami terus memperkuat pendampingan kepada petani agar kualitas gabah semakin baik. Selain meningkatkan produktivitas, kami juga berupaya meningkatkan rendemen hasil panen melalui pemanfaatan alsintan, fasilitas pascapanen, dan penggunaan benih unggul,” jelasnya.
Meski target penyerapan telah terlampaui, Aep menilai potensi produksi padi Kabupaten Sukabumi masih sangat besar. Karena itu, ia berharap Perum Bulog bersama seluruh pemangku kepentingan terus meningkatkan penyerapan hasil panen petani agar kenaikan produksi berjalan seiring dengan kepastian pemasaran.
“Kabupaten Sukabumi memiliki potensi panen yang sangat besar. Kami berharap Bulog bersama seluruh stakeholder terus memperkuat kolaborasi dalam menyerap gabah petani secara maksimal. Dengan demikian, petani semakin semangat meningkatkan produksi dan kesejahteraan mereka pun ikut meningkat,” tegasnya.
Peningkatan serapan gabah Bulog ini menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian nasional. Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan, keberhasilan menyerap hasil panen petani tidak hanya menjaga cadangan beras nasional, tetapi juga memperkuat stabilitas harga, meningkatkan pendapatan petani, serta mendorong keberlanjutan produksi pangan di daerah. (Adv, Ded)