Katanews.com, JAKARTA – Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour mengungkap bahwa penggunaan perangkat digital tidak secara langsung menurunkan kemampuan berpikir seseorang. Namun, kebiasaan menggunakan gadget dapat membuat otak semakin enggan melakukan proses berpikir yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena menjelaskan mengapa banyak orang merasa semakin sulit fokus di era digital, meski berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan dampak penggunaan teknologi terhadap kemampuan kognitif relatif kecil.
Penelitian yang dilakukan Wisnu Wiradhany, Douglas Parry, dan Jaan Aru memperkenalkan konsep brain recalibration, yaitu penyesuaian ulang cara otak dalam menilai besarnya usaha mental yang harus dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu tugas.
Menurut para peneliti, otak manusia secara alami selalu berusaha memilih aktivitas yang membutuhkan energi paling sedikit. Kehadiran berbagai fitur digital seperti infinite scroll, autoplay, serta notifikasi instan membuat akses terhadap informasi dan hiburan menjadi semakin mudah.
“Otak mulai menganggap aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran mendalam sebagai sesuatu yang lebih mahal untuk dilakukan, meski kemampuan berpikir sebenarnya tidak berubah,” demikian dijelaskan dalam hasil penelitian tersebut dilansir dari ANTARA.
Mengapa Pengguna Gadget Lebih Sulit Fokus?
Para peneliti menjelaskan bahwa dalam kondisi laboratorium, seseorang tetap mampu menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Namun, situasi berbeda terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Gangguan berupa notifikasi ponsel, media sosial, maupun aplikasi lain membuat perhatian lebih mudah terpecah sehingga seseorang lebih sering meninggalkan pekerjaan yang membutuhkan usaha mental lebih besar.
Fenomena ini dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya keluhan sulit berkonsentrasi di tengah penggunaan perangkat digital yang semakin intensif.
AI Dinilai Berpotensi Memperkuat Kebiasaan Jalan Pintas
Penelitian juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI). Kemampuan AI dalam menulis, merangkum, hingga membantu proses penalaran secara instan dinilai berpotensi membuat sebagian orang semakin jarang melatih kemampuan berpikir secara mandiri.
Sebagai contoh, seseorang yang sedang mempelajari materi baru mungkin memilih memotret informasi atau meminta AI memberikan jawaban instan dibanding memahami materi tersebut secara mendalam.
Menurut para peneliti, kondisi tersebut bukan berarti kemampuan belajar hilang, tetapi dapat mengurangi motivasi seseorang untuk membangun pemahaman yang lebih kuat.
Peneliti: Teknologi Bukan Musuh, Kesadaran Pengguna Menjadi Kunci
Meski menemukan kecenderungan tersebut, para peneliti menegaskan bahwa teknologi bukan penyebab utama menurunnya kualitas berpikir manusia.
Mereka menyarankan pengguna lebih sadar ketika perhatian mulai teralihkan dari pekerjaan utama, termasuk dengan membatasi notifikasi, menutup aplikasi yang tidak diperlukan, serta menyediakan waktu khusus untuk bekerja tanpa distraksi.
Dengan langkah tersebut, otak dapat kembali terbiasa melakukan proses berpikir yang lebih mendalam meski berada di tengah lingkungan digital yang serba cepat dan instan.
Penelitian ini memperkuat pandangan bahwa tantangan terbesar di era digital bukan terletak pada menurunnya kecerdasan manusia, melainkan pada semakin besarnya godaan untuk memilih cara berpikir yang paling mudah dibanding melatih kemampuan analisis secara mendalam. (Dd)